Senja Yang Menghilang
Salah satu hal yang selalu kau
antisipasi dalam hidup adalah tidak lain kau berubah fikiran oleh karena
terpengaruh orang lain, dan sepertinya itu amat berlaku untuk berbagai hal yang
dialami terutama untuk yang namanya hubungan yang selalu menuntut istilah
kepercayaan. Setahuku begitu, kau tak bisa menyalahkan mereka (Yaitu orang-orang
yang mengenalmu) untuk berhenti menghasutmu agar menghilangkan sebuah
kepercayaan itu, karena mereka bertindak begitu dengan tujuan untuk kebaikanmu
walau sebetulnya mereka tidak pernah tahu pasti karena lebih dari itu, hanya
dirimu sendirilah yang mengenalmu dan tahu jelas sampai batas mana kemampuanmu
untuk mempercayai seseorang dalam sebuah hubungan. Maka itu yakinilah dan
jangan beralih karena kehilangan bisa datang kapan saja.
--0--
Kau paham
istilah rindu ?
Sebelumnya aku tak bisa memahami
jelas arti kata itu sampai pada akhirnya aku sendiri harus merasakannya, Rindu,
begitulah, pemahaman yang akhirnya aku pahami maknanya setelah merasakan dan
menyilami sendunya untuk waktu yang lama.
Sebenarnya tak ada yang menginginkan
itu, percayalah. Rindu hanya sebuah perasaan
tabu yang hanya cukup bagus dalam sebuah kata, tapi tak pernah bagus untuk dirasa
bahkan termasuk jika kau merasakannya dalam sudut paling indah. Sejenak yang
diketahui rindu itu satu perasaan sendu yang bisa dinikmati dalam sebuah senja
dengan teman lagu merdu milik Payung Teduh, jika kau sempat berfikir begitu,
kau sama sepertiku, lalu apa kemudian kau jua sepemikiran denganku bahwa
sebenarnya itu salah, yang ada ketika itu kau malah semakin sendu karena
rindunya semakin masuk ke dalam aura tubuhmu.
Sampai
sekarang aku masih berteman dengan itu, malah aku dibuat semakin dewasa olehnya.
Ku hitung sekarang aku sudah 13 bulan tidak bertemu dengan dia, satu perempuan
yang terdefinisi sebagai seseorang yang aku sebut kekasih. Jarakku dengannya
bisa di bilang sangat jauh, aku masih tetap tinggal di Indonesia, sedang dia
berada di Jerman untuk melanjutkan kuliahnya.
“Mungkin aku
akan tinggal di Jerman untuk waktu yang lama“
Ucap pacarku di bandara sesaat sebelum ia harus pergi.
“Satu tahun
?”
“Malah
mungkin dua tahun aku baru bisa pulang ke Indonesia”
“Aku tahu
itu waktu yang lama, cuma aku rasa aku hanya perlu satu kalimat untuk mengatasi
itu”
“Apa ?”
“Aku percaya
kamu”
Dan aku
masih ingat setelah jawaban itu, waktu itu dia memberiku satu pelukan hangat,
yang sentuhan jarinya bahkan terasa langsung ke jemari, sedikit ada juga air mata
yang jatuh menyirami bahuku. “Aku itu sebenarnya gak mau jauh dari kamu”,
dengan sendu ia bicara dalam peluk itu.
“Hey” Aku
alihkan wajahnya dari bahuku untuk bisa ku tatapnya “Aku senang kamu sudah bisa
mewujudkan salah satu harapan terbesarmu”.
Jawabanku menyoroti pada dia yang memang pernah bilang padaku
bahwa sangat berharap bisa berkuliah di University of Berlin, yang akhirnya
sekarang bisa ia wujudkan.
“Jangan
sia-siakan itu ya, berjuanglah untuk mimpi kamu, sama seperti kepercayaanku
yang akan terus aku perjuangin buat kamu”
“…..”
“Makasih..,Aku
sayang kamu, Za”
“Bahkan aku
lebih sayang kamu, Ve”
--0--
Waktu terus berlalu sebagaimana semestinya, dan yang terjadi tak ada yang
istimewa kurasa, di titik awal aku masih cukup bisa memaklumi rindu dengan
tetap merasakan dan menyilaminya, setiap hari kami selalu menyempatkan waktu
untuk ber face time dan bergantian mengorbankan rasa kantuk kami karena
perbedaan siang-malam antara Indonesia dan Jerman, diawal itu semua terasa
mengasyikan karena kami merasa punya hal baru dalam hubungan, bahkan kau tahu aku sempat merasa tidak peduli
ketika harus merogoh kocek dalam untuk membeli kuota internet setiap harinya.
Mungkin benar berhadapan dengan seseorang yang kita suka bisa
membuat IQ manusia turun 10%.
Berinjak di titik satu semester hubungan jarak jauhku dengannya, aku mulai
didatangi oleh penggoda yang menghampiri dengan berbagai bentuk, mulai dari
kesibukan yang membuat kami jadi jarang berface time atau bertelepon, hingga
bahkan penggoda yang hadir dalam bentuk hasutan teman-teman yang seakan mencoba
mengalihkan aku.
“Broo, di
Jerman itu banyak lah cowok-cowok yang keren, dan sulit banget di percaya kalau
gak ada satu pun yang bikin si Ve tertarik”
“Enggak lah
dia gak gitu, men” Aku masih mencoba membela pacarku.
“Udah lah lu
malam ini ikut sama kita aja main, ada si Nabila juga lho dia ikut”
Nabila
adalah teman satu kampusku juga , yang kata teman-temanku yang lain dia itu
suka padaku, dan mungkin aku bisa percaya jika melihat dia yang memang sering
memberi gerik mendekatiku.
“Ehmmm, kayaknya enggak deh, broo”
Jawabku menolak ajakan.
“Ayolah Reza, si Verni gak bakal
tahu juga kan”
“Ya tapi tetep gak deh broo, ada
acara juga soalnya”.
Kau tahu itu hanya alasanku untuk
setidaknya membuat teman-temanku itu memaklumi saat aku memang tidak bisa ikut.
Saat itu aku masih teguh untuk memberi jawaban begitu.
“Serius nih gak akan ? Ya sudah deh,
tapi awas saja kalau berubah fikiran”
--0--
Nampak memang terasa ambigu, senyap
untuk membuat diri tetap teguh untuk bertahan dibawah apa yang memayunginya,
kau tahu beberapa kali aku berfikir payung saja bisa rusak jika sudah terlalu
sering menahan derasnya air hujan, lalu apa mungkin bisa saja hal yang sama
terjadi pada kepercayaan, aku memang masih percaya pada Verni tapi Jerman tak
pernah memberi jaminan bahwa disana Verni merasa baik baik saja dengan hubungan
jarak jauh.
--0--
Aku masih tahu bahwa senja adalah
jeda waktu yang paling Verni suka, katanya senja itu anugerah dan punya banyak
keajaiban, di persinggahan waktu yang singkat itu manusia bisa banyak
mendapatkan keindahan sebelum mereka dihadapkan dengan sebuah malam yang
mencekam, katanya juga senja itu punya tersiat karena untuk apa yang kau
perbuat perubahan besar bisa terjadi menyikapinya.
Lantas sekarang bersama satu senja di Kota Jakarta dan sebuah layungan
yang mengekuk di atas kepala, aku mencoba lebih menikmatinya dengan memasang
sepasang earphone di telinga, kau tahu aku merasa cocok jika sekarang ku dengar lagu-lagu sendu Payung Teduh,
setidaknya alunanannya benar meneduhkan, walau ku tahu tak ada jaminan untuk
mengobati rindu.
“Emang enak banget sih sore-sore diam
disini”
“Huh ?” Aku berbalik menyamping
“Nabila ?” Aku kaget ketika ia tiba-tiba sudah duduk di sampingku.
“Sudah lama disini?”
“Hah?” Aku lepaskan earphone dari
telinga.
“Sudah lama disini ?”
“Ehmm, baru kok, eh kamu kok disini
bukannya sama anak-anak mau ke …?
“Iya nanti malam, cuma gak tahu juga
sih jadi tidaknya”
“Oh…”
“Eh aku gak apa-apa ini ikut gabung
duduk disini”
“Oh iya gak apa, bareng aja”
Nampaknya akan ada yang berubah, aku
akan membiarkan Nabila untuk tetap disini, dan mungkin juga untuk pertama
kalinya aku akan merasa biasa saja
ketika harus berdampingan untuk waktu yang lama bersama perempuan selain Verni.
Memang sepintas ini akan membuatku
seperti melanggar aturan kepercayaan, sedikitnya ini juga akan membuatku
menyakiti Verni diam-diam, aku tak tahu ini wajar atau tidak tapi ketahuilah
rindu itu terlalu dalam, baik itu rindu pada Verni atau mungkin juga rindu
berdampingan dengan perempuan.
“Bil, kamu mau nemenin aku gak
sekarang?”
“Kemana ?”
“Ya main aja, gimana ?”
“Oh gitu, ayo aku mau kok”
Begitulah
aku kini, tak jelas alasannya mengapa, tapi aku seperti sedang diiringi
kewajaran sekarang, tak ayalnya aku merasa jua bahwa mungkin di Jerman sana,
Verni sama sepertiku mulai tersiksa dengan hubungan jarak jauh, dan tak ayalnya
jua mungkin disana sekarang dia sama, sedang bersama laki-laki lain.
“Yuk, Pakai
motor aku aja ya, Bil”
Di ujung Senja
bersama Nabila aku berada di depan untuk melindunginya dari sergahan angin
senja yang kencang, di motor ini kau tahu, yaitu motor yang dibeli lima tahun
lalu menjadikannya merasa lagi untuk pertama kali jok belakang diduduki oleh
perempuan sejak terakhir kali diduduki oleh Verni, 13 bulan lalu. Aku bisa
merasakan ada yang berbeda.
“Eh Za” Di
atas motor Nabila mengajakku bicara “Kamu udah baca Line Today belum sekarang ?”
“Ada apa
memangnya, Bil ?”
“Ini ada
berita pesawat jatuh”
“Pesawat apa
?”
“Gak tahu
cuma disini mah deskripsi beritanya pesawat dari Berlin tujuan ke Indonesia,
jatuh tadi pagi di daerah Kalimantan”
“Oh ya serem
ya ih sekarang mah naik pesawat itu”
“Iya makanya
kan kalau gak penting-penting banget mah males orang berpegian jauh terus naik
pesawat”
--0--
Entah dengan
niat tujuan yang memang belum jelas aku memutuskan untuk melajur ke jalur jalan
Jendral Sudirman, rasanya faktor karena ingin saja aku lewat sana, dan Iya aku
juga jelas tahu jika itu adalah jalan dimana rumah Orang tua Verni berinjak,
makanya mungkin ada rasa yang berbeda ketika aku melewat kesana.
“Eh ini mah
bukannya jalan yang mau ke rumah si Verni ya” Bicara Nabila, dia memang tahu
karena dia juga berteman dengan Verni.
“Iya, di
depan sana kan itu rumahnya”
Lalu di
waktu ini, yaitu 20 menit selepas jam 6, di lingkungan Blok C, terutama di area
depan rumah itu, ku lihat banyak orang yang ada disana, entah untuk apa tapi
disekitarnya sana banyak kendaraan yang di parkir dan kursi-kursi kecil yang
diletak berjajaran, jelas itu membuat rasa penasaranku berkecambuk untuk ingin
tahu.
“Itu ada apa
ya di depan rumah Verni, kok banyak orang gitu ?” Sahut Nabila.
“Iya, bentar
ya, BIl. Aku lihat kesana dulu” Jawabku untuk langsung pergi menuju kesana.
Mendekatinya,
aku merasa makin heran, maksudku mengapa pula tubuhku justru mendadak
merinding, terutama ketika mendengar dua bapak-bapak disana terdengar bicara, “Gak nyangka ya”.
Lalu ketika
sampai di teras rumah itu aku segera menghampiri Kak Renal, yaitu kakaknya
Verni yang sama seperti yang lainnya terlihat merasa sendu.
“Kak Renal”
Panggilku “Ini ada apa ya ?”
“Reza…”.
Ku dengar
sapaan Kak Renal itu lesu, ia mengajakku untuk duduk seperti merasa perlu
begitu untuk memberitahunya.
“Kak Renal
ini ada apa sih kok ramai gini ?” Aku mengulang pertanyaanku.
“Za, kemarin
Verni ngasih kabar kesini kalau dia dapat libur 4 hari di kampusnya”
Kau tahu wajahku memperhatikan serius apa yang Kak Renal katakan
itu.
“Dan dia bilang”
Kak Renal melanjutkan “Malamnya dia akan langsung pulang ke Indonesia, dan kamu
tahu alasan dia kenapa menyempatkan pulang ?”
“Apa Kak ?”
“Katanya dia
rindu, ingin ketemu kamu”
“Iyakah ?”
mendengarnya, sedikit ada kaca-kaca yang terbercik dimataku
“Iya Za, tapi
tadi pagi pesawat yang ditumpangi Verni jatuh, Dan….”
Kau tahu aku shock mendengarnya, sejenak aku teringat dengan
apa yang dikatakan oleh Nabila di motor tadi.
“Dan apa
kaaakk….” Aku mulai takut dengan kelanjutan jawabannya.
“Dan, Verni
jadi salah satu korban yang tidak selamat”
Dummm,
jantungku seolah terguncang, merasa berhenti bertugas sejenak, apa yang aku
dengar barusan seolah menjadi berita paling buruk yang telingaku dengar, atau
juga menjadi kenyataan terburuk bagi raga di jiwa ini.
“Hah…?” Aku
lesu, jiwaku tertunduk berkecambuk dengan perasaan tidak percaya.
Selantasnya
ketika Kak Renal menceritakan semua apa yang terjadi aku semakin tak kuasa
untuk meruntuhkan air mata, bersamanya aku merasa buruk masih sulit untuk
menerima kenapa ini harus terjadi.
“Jenazah
Verni sudah teridentifikasi, mungkin malam ini atau besok pagi sudah sampai di
rumah”. Tutup Kak Reza.
Perlahan aku
meninggalkan tempat duduk, beralih untuk mengasingkan diri dari banyaknya orang
yang ada. Malam ini terasa lebih gelap bahkan lebih gelap dari satu malam
paling mencekam. Mataku serasa kosong tak mampu melihat apa-apa, buyar
semuanya. Jemariku tertikam oleh perasaan benci pada diri sendiri, kondisiku
sulit untuk harus segera tegap, aku benci kenyataan ini.
“Za ?”. Nabila
tiba-tiba ada dibelakangku.
Aku berbalik karena masih mampu mendengarnya.
“Ehmm..,
yang sabar ya, Za”. Ku terka Nabila sudah tahu kabar ini, Jua tahu alasan
mengapa diriku bermurung.
Dan kau tahu
aku dingin untuk itu, mataku masih tetap kosong menghias lingkaran wajah yang
datar, tak ada yang membaik karena ku tahu kehilangan adalah hal paling
menyakitkan apalagi jika itu berharga dan selamanya.
--0--
Aku masih
terdiam di area samping rumahnya, bersama angin-angin yang sudah mau masuk
tengah malam ini aku masih tetap mengasingkan diri karena kau tahu, rasa
bersalah mengabdi diantara sendu kehilangan ini.
Tak hentinya
aku berfikir betapa sangat bersalahnya diriku, membunuh berbagai asa hanya untuk satu fikiran yang salah, ketika
Verni rela mengasihkan sela waktunya yang sebentar hanya untuk ingin bertemu
denganku aku justru malah mencoba memalingkan diri dengan perempuan lain.
Mungkin aku sedikit benar untuk fikiran bahwa Verni sama sepertiku merasa tidak
baik dengan hubungan jarak jauh, sayangnya aku menilai salah untuk responnya. Untuk apa yang dilakukannya
yang begitu istimewa aku malah menodainya dengan hal yang salah, aku ingin menyesal tapi itu tidak cukup untuk
mengembalikan dirinya.
Dan Senja
tadi, bukan senja yang aku maksud, bukan senja yang malah bersalah karena
tingkahku, aku telah merusak sebuah waktu yang menjadi favoritnya, Aku bersalah
karena merusak apa yang dikatanya indah. Tak seharusnya di senja tadi aku
bersama perempuan lain ketika di tempat lain mungkin ia sedang berdoa agar
usahanya untuk pulang tak sia-sia.
Maafkan aku
Verni, ku tahu itu tak akan pernah cukup tapi ku tahu kau mampu mendengarnya,
terima kasih untuk perjuangan yang sudah kau niatkan dan maafkan untuk kesalahanku
yang tak kau ketahui.
Sekarang
hanya jasadmu yang mampu ku tatap tapi
aku percaya jiwamu ada diantara sekeliling tubuhku ini, mungkin kau tersenyum
atau mungkin kecewa, aku tak bisa melihatmu, tapi Verni perlu kau tahu
sesungguhnya aku masih akan tetap cinta kamu lebih dari seumur hidup, dan walau
berdebu tapi biarlah di liang yang lain aku akan rela untuk ada disebelahmu.
Terima Kasih dan Bertenanglah.

Komentar
Posting Komentar