Sahabat (Tak Pernah) Mencintai
Lagipula
Sahabat atau Kekasih bukanlah pilihan, kau tak bisa menuntut untuk menentukan
mana yang utama, karena pada dasarnya mereka adalah dua manusia yang sama,
manusia yang sama-sama ingin kau sayangi.
--0--
Mari
mengawali dari sini, sekarang aku sedang berada di pelataran Jalan Dago
berhadapan dengan cuaca malam Bandung yang dingin, yang coba aku atasi dengan
segelas kopi selain juga lagu Kodaline yang aku dengar sembari mengerjakan
sebuah tugas di laptop ini.
Oh
iya, Aku Rizki, laki-laki yang dua tahun lalu sempat ditawari untuk masuk AKPOL
tapi tak aku terima, waktu itu Ayah yang menawari dan bilang begini.
“Rizki,
kamu tidak mau coba saja masuk akademi seperti Kakakmu ?”.
Kakakku memang pernah masuk Akademi
Kepolisian dan sekarang malah sudah menjadi anggota tapi aku tak ingat
pangkatnya sekarang apa.
“Tidak
ah, Yah, aku sudah nyaman sekarang”
“Yakin
? Kau tengoklah kakakmu sekarang, keren bukan ?”
“Iya
aku setuju, tapi aku sudah senang masuk komunikasi”
Sekarang
aku memang sudah berada di semester 4 dalam jurusan Komunikasi di Universitas
Padjajaran Bandung, dan aku bersyukur karena aku berada dalam kotak yang aku
suka dan aku ingini. Iya aku tahu menjadi Polisi, Tentara, atau Aparat itu
keren tapi hidupku adalah milik aku, aku berhak memilih, dan menjadi keren
bukan patokanku.
Lagipun
aku membawa diriku pada lajur yang tidak ribet, jika kau tanya apa keinginan
atau cita-citaku aku hanya ingin menjadi manusia yang paham bagaimana caranya
menjadi manusia, kau akan tahu apa maksudku.
--0--
Aku suka tempat ini, iya maksudku
Dago, kadang berdiam di tempat ini saja sudah cukup untuk membuat aku bersyukur
terlahir sebagai orang Bandung, apalagi jika aku ingat Bandung itu sudah
memberi banyak hal untukku, Tempat yang Indah, Keluarga, hingga bahkan Sahabat.
Masa yang panjang sudah aku jalani
untuk menjalin sebuah persahabatan, dan solidaritas itu mengacu pada satu nama.
Widy, dialah orangnya, perempuan orang Sukajadi yang punya nasib sama sepertiku
menjadi anak bungsu dan punya tiga kakak yang jarak usianya sangat jauh, selain
itu kami juga punya kesamaan lainnya, yaitu sama-sama lahir di waktu ketika mau
adzan, bedanya aku di waktu adzan shubuh sedang dia di waktu adzan maghrib.
Aku senang bisa bersahabat dengannya,
bukan dengan alasan yang rumit melainkan hanya dengan hal berkesinambungan yang
sederhana, dia ingin berteman denganku dan aku ingin juga berteman dengannya,
maka itu sudah jadi cukup untuk bagaimana dua manusia bisa bersahabat. Terciptanya
sebuah hubungan persahabatan yang panjang
bagiku bukan karena kami merasa harus tapi merasa itu perlu, bahkan
ketika salah satu dari kami sudah punya orang yang di lisan berkata lebih menyayangi,
kami akan terus bersahabat.
Sekarang Widy memang sudah punya pacar,
dia adalah Roby, laki-laki yang cukup ku kenal juga. Mereka sudah berpacaran
sekitar 7 bulan lalu kurasa, dan memang iya ketika seseorang sudah memiliki
pasangan itu akan membuat mereka memilih itu untuk menjadi yang utama, itu juga
yang terjadi pada kami, semenjak Widy punya pacar dia merasa waktu-waktunya
akan lebih menyenangkan ketika dihabiskan bersama Roby, dan aku cukup paham,
karena begini sebagaimanapun kau merasa sahabatmu penting, pacar akan tetap
harus menjadi yang pertama karena itu sudah jadi aturannya.
Termasuk malam ini ketika Widy
memilih untuk menemui Roby dibanding menemaniku mengerjakan tugas.
“Wid, malam ini yuk kita kerjain
tugas itu” Sepotong pembicaraanku sore tadi di telepon.
“Aduh malam ini mah aku mau
nemuin Roby, mau ngasih surprise, hehe”
“Oh ya sudah gak apa-apa aku saja
yang kerjain, sukses ya”
Padahal kau tahu ini adalah tugas
kelompok yang seharusnya bisa kami kerjakan bersama, tapi tak apa mungkin Widy
tahu hal apa yang lebih bisa membuatnya senang malam ini.
--0--
Dan malam gelapnya sudah nampak lebih
pekat sang angin membius aku yang tidak memakai jaket, kopi panas yang aku
pesan dua jam lalu akan sudah tidak berguna untuk aku minum sekarang.
“Rizki ?”
“Putri ?”
Sebuah
kebetulan mempertemukanku dengan Putri, teman satu kampusku, dia datang sendiri
dan katanya memang kesini untuk nongkrong lantas meminta untuk bergabung satu
meja denganku.
“Dari
tadi ?” Tanyanya.
“Iya
lumayan ini lagi ngerjain tugas”
“Oh Tugas Pak Bram ya ?”
“Iya”
Kebetulan
Putri memang satu fakultas pula denganku jadi memang selayaknya juga dia tahu
tentang tugas ini.
“Tapi
itu bukannya tugas bareng kamu sama si Widy ya ?”
“Iya,
cuma lagi ada urusan katanya dia”
“Baik
banget kalau gitu kamu ngerjain sendiri”
“Ha
Ha, Iya”
Betapa
sulitnya untuk memahami ketidakpastian yang sama sekali tak kau ketahui,
diantara semerbak untaian ucapan-ucapan yang aku dengar selalu saja telinga ini
diperdengarkan dengan kalimat “Kok kamu
bisa sih temenan lama sama si Widy”. Lanjutannya macam-macam ada yang
berkata bahwa kami terlihat cocok untuk lebih jadi sahabat lalu bahkan ada pula
yang berkata bahwa aku terlihat bodoh ketika mampu sabar menghadapi tingkah
Widy yang terkesan semaunya. Memang aku setuju, Widy itu memang terkadang
semaunya, ia bisa lupa bahwa ia terlahir sebagai makhluk sosial yang tidak semua
hal bisa ia anggap gampang, kadang ia terlalu patuh pada eksprektasi hingga
membuatnya tak sempat memprediksi hal apa yang akan timbul.
Egois
? Mungkin, tapi itu bukan berarti ia adalah manusia paling menyebalkan di muka
bumi. Aku tidak henti-hentinya mengingatkan diri kalau semua manusia pasti
punya kekurangan, baik yang terlihat ataupun tidak, dan cara terbaik untuk
menghadapi hal semacam itu adalah bukan dengan menjauhinya tapi dekatilah
karena kekurangan hanya titik kecil dari lingkaran besar kebaikan manusia dan
kau bisa belajar banyak padanya.
“Aku
tuh heran deh sama kalian” Pembicaraan dilanjutkan oleh Putri “Kalian kan dari
smp ya katanya sahabatan tapi masa yakin
gitu gak ada perasaan lebih, kalian kan dekat banget”
“Enggak
lah Put, kita mah ya emang sahabatan aja”.
Kau
tahu beberapa hal yang saling dekat memang hanya diciptakan untuk begitu,
tengoklah saja seperti alis mata, bukankah mereka juga saling dekat, bahkan itu
sudah terjadi sejak mereka pertama muncul, mereka tahu mereka sama-sama penting
baik untuk melindungi mata atau juga menghiasi sesama, ketika semakin
dewasa mereka akan memanjang kesamping
tapi alis kanan dan alis kiri takkan pernah menyatu, mereka cukup tahu kalau
untuk menunjukan hadir adalah penting tidak perlu dengan bersatu.
“Eh
Put kamu masih mau disini ?” Tanyaku
“Iya,
kenapa memang ?”
“Aku
kayaknya pergi duluan, gak apa-apa ?”
Rasanya
sudah terlalu lama juga untuk aku berdiam di tempat yang sama selama lima jam
dengan termasuk satu jam ditemani Putri, aku ingin pulang saja karena
sebenarnya tugas pun sudah selesai sedari tadi.
“Oh
iya gak apa-apa, hati-hati ya Ki”
--0--
Berapa banyak bintang yang mampu
terlihat di gerlap malam kota yang dipenuhi lampu-lampu, jawabannya mungkin
banyak tapi itu tak membuat semua bintang yang muncul dapat kau lihat, Sama seperti
perasaaan, mungkin dari banyaknya ucapan indah yang kau dengar ada terselip
satu sikap tak terduga yang disembunyikan olehnya.
Aku mengiringi jalanan Bandung yang
sepi dengan motor kesayangan ini, aku menyesal tak sempat membawa jaket
ujungnya aku juga yang kedinginan, sungguh Bandung malam ini dingin, rasanya
aku ingin ngebut saja agar bisa segera sampai di rumah untuk berganti pakaian
dan mengahangatkan badan. Tapi aku tak bisa mewujudkan karena hempasan angin
menyodorkanku untuk singgah di titik sana.
“Wid
?” Sahutku
“Wid
?” Aku mengulanginya untuk memastikan bahwa orang yang menundukkan wajahnya ke
lengan ini adalah Widy.
Lalu ia tertegap dan aku benar, Dengan
segala rasa spontanitasnya kepalanya ia sandarkan dibahuku dengan diiringi
lengannya yang mendekap, ia seperti melakukan hal biasa pada orang yang biasa
ia percaya ada diantara penenang rasa sedihnya.
“Kamu
kenapa ?” Tanyaku.
Aku tahu ia
menangis, senggukannya dapat aku dengar.
Ia tak langsung menjawab, seolah-olah
kesedihannya menjadi penghalang itu.
“Oke Wid, tenang, aku disini” Aku
mencoba menenangkannya dari tangis.
“Roby jahat, Ki” Bilangnya.
“Hah ?”
“Dia selingkuh”
Selantasnya Widy menceritakan semua apa
yang terjadi barusan secara rinci, ia menceritakan dengan tetap tidak bisa
menghentikan sedihnya, dia benar rapuh. Katanya pula dia benci kenapa tadi
sempat berniat untuk memberi kejutan untuk membuat Roby senang yang pada hasilnya justru Roby malah membuat ia sakit.
Memang tak semua penghujung sampai pada ekspektasi.
Aku angkuh, marah pada orang itu,
sebagaimanapun ia telah merusak kepercayaanku, kemarin aku rela waktu-waktu
kebiasaanku bersama Widy ia renggut dengan alasan ia merasa berhak karena ia
pacarnya, dan aku benci karena keberhakannya itu justru ia pakai semena-mena.
Sebenarnya siapa dia, hanya laki-laki sok
ganteng yang datang bak makhluk yang mampu memberi kebahagiaan lebih pada
Widy, namun itu hanya fiktif karena pada akhirnya ia justru sama sekali tidak
paham bagaimana cara memperlakukan dan menghargai Widy.
Sekarang coba beritahu aku kata apa
yang lebih buruk dari bejad, aku akan
menggunakannya untuk aku sebut pada dia sebagai awalan pada pelajaran yang
harus ia dapatkan dariku.
“Kenapa kamu harus sedih karena dia ?”
Ketika membaik aku mencoba untuk mengajak kembali Widy bicara.
“Karena aku fikir dia benar dengan
semua ucapannya”
“Ucapan ?”
“Ki, dia itu tiap hari bilang kalau dia
mencintai aku” Katanya “Makanya aku fikir hati dia memang benar cuma hanya buat
aku, tapi tahunya…”
“Aku heran kenapa banyak manusia yang
luluh hanya dengan kata-kata yang terdengar manis”.
Jikalau begitu, aku akan bicara begini
padamu, Wid.
Duduklah dengan tenang, taruhlah
sejenak kedua tanganku dekat lutut yang menekuk, tatap mataku dan mendekat jika
perlu. Kau perlu tahu aku sudah kenal lama denganmu, hubungan persahabatan kita
sudah panjang dan lebih panjang dari episode sinetron di tv, aku banyak tahu
tentangmu dan ku yakin kau juga sebaliknya, aku paham bagaimana cara membuatmu
bahagia dan ku kira kau juga, aku adalah orang yang pertama kau cari ketika kau
merasa rundung, aku adalah orang pertama paling siap menjadi apapun yang kau
butuh, aku melakukan itu tidak hanya membicarakan atau menjanjikannya.
Kau tahu jika telingamu terlalu
sensitif maka akan bisa aku pastikan bahwa aku tidak akan pernah bilang kalau
aku mencintaimu, itu berlebihan karena kau adalah rasa cukup yang sangat aku
syukuri. Untuk apa pula aku berkata begitu karena aku tidak ingin bersikap sama
seperti orang-orang terdahulu yang bilang begitu padamu. Aku adalah aku, adalah
bantal yang bisa kau sandar kapanpun kau merasa lelah, adalah lembar tisu yang
bisa kau gunakan untuk menghapus luka, dan adalah lagu yang bisa kau dengar
sesuai perasaan jiwa, karena aku adalah aku SAHABATMU.
Biar aku menjadi rumah saja bagimu,
Karena bagiku menjadi sahabat tidak
perlu untuk selalu bersebelahan tapi di waktu yang tepat mampu menjadi sandaran
ketika kepala sudah lelah ditipu akan cinta.
Aku hanya ingin melakukan itu karena
aku hanya ingin menjadi manusia yang paham bagaimana menjadi manusia, yaitu
dengan caranya sendiri menjadi manfaat bagi orang lain.

Komentar
Posting Komentar