Pengagum


            Sebagaimana biasanya Jatuh Cinta adalah tentang itu, tentang sesuatu yang kau sebut perasaan untuk menyeruakkan pengaguman pada dia yang ingin kau sebut sempurna.
            Aku masih percaya bahwa jatuh cinta itu dikenalkan oleh mata, karena darinya lah kau pertama kali bisa tahu apa kau benar merasa atau tidak, tapi ketahuilah tatkalanya mata juga bisa jadi boomerang jika bagimu cinta hanya sampai pada itu.

--0--
            Waktu itu, sebuah malam dengan semestanya yang gelap, bintang-bintang berkuasa untuk menjadi dewa diatas langit sana, sedangkan disini aku sedang merasa kedinginan oleh suhu khas Lembang yang selalu bisa langsung menusuk jemari.
            “Nanti shubuh bisa lebih dingin dari ini malah” Aku bicara pada perempuan itu
            “Oh ya ?”

            Selalu malam itu akan menjadi malam yang paling aku ingat, lebih dari sekedar semarak petasan  tahun baru ataupun riuhnya suara terompet, tapi cukup sederhana karena yang berkesan adalah pertemuan pertamaku dengan DIA.
            Sabtu senja, Aku ada di kampus sahabatku yang sebelumnya sudah memintaku untuk kesana tersebab aku dimintai untuk menemaninya pada sebuah acara yang telah mengundang sahabatku itu untuk jadi salah satu pengisi acaranya.
            “Kamu dimana ? Aku sudah di kampus ini” Aku bicara lewat telepon dengan sahabatku itu.
            “Eh iya maaf, aku sudah berangkat duluan” Jawabnya enteng “Tapi kamu tetep kesini ya, tolong anterin itu temen aku kesini, belum ada tebengan dia”
            “Kok mendadak gitu sih ?” Aku sedikit kecewa karena ini sedikit berubah dari apa yang sudah terbayang.
            “Iya gak-apa atuh yah ? da baik kamu mah, temanku nya sudah nunggu di gerbang, kamu samperin saja”
            “Ya udah, iya iya”
Kau tahu, Mungkin karena faktor kami sudah berteman sangat lama membuatku tak punya celah untuk tidak membantunya, apalagi  dia perempuan.
            “Terima Kasih, ya”

--0--
            Selanjutnya kau tahu, aku berkenalan dengan DIA, iya DIA teman sahabatku itu. Dan begini janganlah kau tanya bagaimana kesan pertamaku berjumpa dengan DIA, aku tak bisa menjawabnya, sejenak yang ku lihat hanya bahwa matanya indah, uraian rambut panjangnya juga tergerai indah dan aku tak bisa fikir panjang untuk menyebut bahwa dia cantik. Tapi itu bukan jawaban, kan ? itu semata hanya pujian semu seorang laki-laki yang terpesona pada perempuan di depan matanya.
            Janganlah berdebat, aku tak mampu menemukan jawaban kongkrit tentang kesan atau penilaian pertama, beri sajalah aku pertanyaan lain, semisal apa aku merasa jatuh cinta di pandangan pertama ?
--0--
            Dalam surveinya 74% dari semua manusia di bumi ini pernah merasakan yang namanya jatuh cinta pandangan pertama, tak ada pembuktiannya tapi ku harap kau percaya saja karena ini menurutku. Lalu kemudian angka itu terpecah lagi menjadi beberapa poin antara lain bagi mereka yang tahu langkah selanjutnya dan bagi mereka yang tidak. Bagi mereka yang tahu meraka akan dengan mudahnya menyasar bahwa yang mereka pandangi itu adalah tujuan untuk pelabuhan hati yang tepat, tapi bagi mereka yang tidak kadang dengan mengagumi saja sudah menjadi langkah yang cukup. Dan untukku ,aku sedang tidak tahu ada di dalam posisi yang mana.
            DIA adalah penyebabnya, untuk ukuran perempuan yang belum lama aku kenal aku telah dibuat repot olehnya dengan hampir setiap hari memikirkannya, entah DIA seperti punya aliran untuk membuatku merasa begitu, padalah kau tahu akupun tak menjumpai kalimat sering untuk bertemu dengan DIA, sejak sahabatku mengenalkannya padaku aku hanya beberapa kali saja bertemu dengan DIA tapi dalam waktu beberapa kali saja itu aku justru sanggup mengubah perasaan.
            Tidak bisa aku pungkiri DIA adalah perempuan tanpa alasan yang sanggup membuat aku berperasaan, lebih dari sebuah kebetulan atau hal yang lumrah, bayangkan saja aku hanya baru beberapa kali berjumpa dengan DIA tapi mengapa aku tak punya sangkalan jika ditanya tentang jatuh cinta, baiklah mungkin aku menjadi salah satu korban jatuh cinta pandangan pertama, lalu jika iya bagaimana selanjutnya ?
--0--
            “Eh temanmu yang waktu itu kemana ?” Aku bertanya pada Sahabatku.
            “Oh, gak tahu aku belum ketemu dia hari ini”
            “Loh, bukannya satu kostan juga kalian ?”
            “Iya, cuma paling kita ketemunya malam aja, padat banget dia jadwalnya”
            Senja berteman dengan anginnya, daun-daun kering berjatuhan untuk membuat sekitarnya kotor, walau begitu aku tetap menyukai menikmati senja disini, di sebuah taman kota yang bersebelahan dengan tukang batagor.
            “Kenapa memang kamu nanyain dia ?” Lanjut Sahabatku
            “Engga, cuma tanya aja”
            “Hahaa…. Jangan-jangan kamu suka ke dia ya ?” Pertanyaannya langsung menyodorku “Dia itu ya…”
            “Sudah punya pacar ?” Potongku
            “Enggak,gak tahu pasti sih aku itu mah “ Jawab Sahabatku “Cuma ya dia populer, aku juga sering lihat dia hunting sama cowok-cowok”

            Dari jawaban itu aku menerka bahwa ada istilah sulit untuk mendekatinya, aku menyadari bahwa aku jelas bukan satu-satunya pria yang ingin mendekatinya bahkan aku juga tak cukup yakin ada di posisi lima, mungkin lebih, karena faktanya perempuan seperti dia butuh paling tidak 10 pria untuk merasa suka dan bisa bertambah setiap harinya bagi pria yang baru pertama memandang wajahnya. Aku tak cukup yakin akan bisa terlihat jika memang aku keukeuh bergerak mendekatinya, kurasa aku memang tak perlu memaksa kehendak selebihnya aku harus bisa tahu bahwa jatuh cinta adalah bukan begitu, bukan seutas jiwa yang membiarkan ego menang mutlak dari perasaan, itu tidak baik karena kau juga mungkin tahu bahwa tidak semua cinta bermakna memiliki.
           
            “Eh tapi” Seru sahabatku “Minggu depan dia ada performs di kampus dan kebetulan bertepatan sama ulang tahunnya, kamu datang aja”
            “Oh ya ?”
            “Iya, aku sama teman-teman sih ngerencanain bikin surprise, kamu mau gabung ?”
            “Ehmmm, gak tahu atuh gimana ya”
            “Yehhh, kamu  mah”

--0--
            Hari ini aku memutuskan untuk datang ke kempusnya, tapi bukan bersama sahabatku untuk ikut memberi DIA surprise, aku datang sendiri karena ada tujuan lain untuk itu, kau tahu aku datang kesini dengan sebuah kotak bingkis yang sedikit aku rangkai untuk membuatnya bisa disangka hadiah, di dalamnya pula ada bercangkir kertas yang sudah aku isi sebuah tulisan, yang bisa dibaca tapi sebaiknya jangan sekarang.
Itu memang sesuatu yang ingin aku berikan ke DIA, dan sekarang dengan rencana sembunyi-sembunyi aku akan menaruh kotak itu di tasnya, iya aku masih ingat yang mana tas nya DIA karena sewaktu aku satu motor dengannya lalu aku masih ingat ia titip tasnya di area depan motorku.
Dan lalu aku berhasil pada rencana itu.

            Kemudian pukul lima aku tidak menikmati  senja di luar dan lebih memilih ada di ruangan, tepatnya aku akan melihat penampilan DIA yang bersama pasukannya akan memberi pertunjukkan tari yang kuduga dari banyaknya penonton berarti ini adalah pertunjukkan yang dinanti, mungkin begitu tapi bagiku itu bukan sesuatu utama yang penting karena tujuanku hanya melihat DIA walau gelakakku menunjukkan tak ingin diketahui, iya memang begitu, aku menonton di jajaran bangku paling belakang dan mencoba menutupi muka denga setelan topi dalam sweater, aku berusaha untuk membuat tidak terlihat, baik oleh DIA atau juga oleh sahabatku yang terlanjur sudah aku beri jawab bahwa aku tidak akan datang kesini.

--0--
            “Eh kok kamu disini ?” Setelah acara, tak sengaja aku bertemu dengan sahabatku.
            “Eh, iya”
            “Katanya gak akan kesini”
            “Eh iya tadi ehmm….” Aku mencoba mencari alasan.
            “Apa, apa hayooo, Haha…” Tawanya “Ya sudah sini dulu yuk bentar aku mau cerita”
            “Ada apa ?”
            “Sudah duduk dulu dong sini”

            Aku ada di kantin bersama dengan sahabatku, sekarang di meja sudah ada dua teh kotak dingin yang semoga masih bisa cocok diminum walau sudah malam, setidaknya hanya untuk beberapa menit untuk menemani aku yang waktunya sudah di pinjam untuk mendegar apa yang ingin dibicarakan sahabatku.
            “Eh kamu tahu gak ?” pembicaraan ia buka
            “Kenapa ?”
            “Tadi masa yah pas selesai perform temanku yang itu nemuin sesuatu di tasnya”
            “Temanmu yang ?”
            “Iya DIA” jawabnya “Jadi di backstage aku sama temen-temen ngasih dia surprise kan, nah pas sudahnya waktu dia beres-beres dia nemuin hadiah di tasnya”
            “Terus,terus responnya gimana dia ?” Jelas aku ingin tahu jawaban mengenai itu.
            “Iya dia seneng, apalagi hadiahya selendang kan, pas banget dia lagi butuh itu”

            Sesuatu yang lebih dibutuhkan memang terkesan lebih dapat membuat senang ketika didapatkan, apalagi jika kebetulan itu didapatkan atas nama hadiah, dan sejenak rasanya aku juga bahagia mendegarnnya.
            “Siapa ya kira-kira yang ngasih dia itu”
            “Menurutmu siapa ?” Tanyaku balik.
            “Dia sih nyangkanya dari si Ilham”
            “Ilham ?”
            “Iya teman kampus juga, si Ilham kan suka ke DIA dan memang agak misterius sih si Ilham mah orangnya”

            Tak pernah ada yang salah tentang itu, sudah menjadi tanggungan seorang pengagum jika kemudian sosoknya tak terlihat atau bahkan disalahi sangka, tak perlu jua merasa kecewa saat DIA tak menyangka bahwa aku yang memberinya, bagiku saat ini terpenting dia bahagia dengan apa yang didapatinya, biar untuk saat ini aku hanya ingin mencerna bahwa memang ini bukan waktu yang tepat untuk dia tahu aku beserta perasaanku.
            “Romantis banget gak sih orang yang ngasih hadiah itu ke dia ?” Lanjut sahabatku “soalnya ya pas nerima hadiah itu dia kelihatan seneng banget”
            “Hey…, Heyy…Heyyyyy”
            “Eh iya”
            “Kamu kenapa kok melamun”
            “Ehmm engga-engga kok”
            Aku menyudahi jeda itu, menghentikan satu lamunan kecil yang tadi sempat melintas, kini dengan satu tegukan teh kotak aku ingin menyampaikan sesuatu untuk diriku sendiri atau mungkin bisa juga untuk DIA.
            Sekarang aku sama seperti apa yang ku tulis di secarik kertas diantara bingkis hadiah itu.
            
             Aku biarlah seperti ini mencari tahu apa yang kau suka untuk kemudian memberinya diam-diam,Kau tahu sekarang aku tak banyak pinta, cukup hanya ingin izinmu untuk menjadi pengagum.
            Dan kamu tetaplah begitu menjadi dirimu sendiri bersama kebahagiaan yang membuatmu begitu, kau tahu kamu akan terus cantik bahkan mungkin selamanya, aku senang jika kamu memakai selendang ini apalagi jika kau tersenyum saat bercermin karena kau tahu, senyummu adalah kata terima kasih paling sempurna bagiku.
            Begitulah, aku senang jika kamu senang, dan janganlah sedih karena itu rugi untukmu dan pahit untukku.
            Tetap tengok ke depan untuk selalu terseyum dan percayalah lain kali aku akan menampakkan diri untuk sama-sama berbahagia denganmu.
Salam.


            Begitulah, ku harap DIA sudah membacanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Detik

Solo Travelling

Atas Nama