Change
"Nan, jadi gak sekarang ?". Aku baca satu pesan masuk dari Sisi.
Iya jadi malam ini adalah
hari terakhir di tahun 2016 dan nanti malam aku akan menemani sahabatku Sisi
untuk tampil di salah satu rumah kesenian di daerah Lembang, dan kau tahu
bersamanya juga lah mungkin aku akan menikmati malam tahun baru kali ini.
--0--
Jam 3 sore lebih 10 menit aku telah ada di area kostannya di
sekitaran Jalan Dipatiukur beberapa meter saja dari kampusnya, UNPAD, aku
sedikit telat beberapa menit dari permintaannya yang memintaku harus sudah ada
disini jam 3 kurang.
“Hei maaf baru datang” Aku menyapanya
ketika ia keluar dari kamar kostnya
“Iya gak apa-apa kok”
“Eh Nan” Lanjutnya “Kamu bisa antar
temen aku ke lembang gak buat perform, dia belum ada tumpangan, aku mah bawa
motor sendiri da”
Aku memang datang bersama motor Satria
FU150R, karena ku fikir aku yang akan mengantar Sisi kesana, dia tidak bilang
kalau aku harus mengantar temannya, lagi pula kau tahu alasanku mengiyakan
ajakannya adalah karena aku memang ingin bersama Sisi, bukan temannya.
“Iya oke oke boleh kok” Kau tahu aku
tidak punya jawaban lain selain itu.
“Makasih ya Nandan, cantik kok teman
akunya”
Sisi
seperti mencoba menjelaskan itu padaku, padahal kau tahu jika temannya itu
memang cantik pun aku tetap akan kecewa karena bukan Sisi yang aku antar.
“Nah ini orangnya, kenalin Nan”
“Hai, Nandan” Aku jabatkan tanganku pada
perempuan itu yang lalu ia balas dengan hal sama “Hai, Mischa”
Perempuan
itu memperkenalkan dirinya dengan nama Mischa, aku setuju dengan Sisi dia
memang cantik, posturnya setara dengan
Sisi tidak sangat tinggi tapi tak bisa juga kau hina pendek, rambutnya sedikit
ia warnai merah khas Belanda untuk seperti membuatnya merasa kekinian.
“Cantik
kan ?” Sisi mengarahkan kalimatnya untukku
“Eh berangkat sekarang aja yuk, yang lain udah disana kayaknya”
“Iya
ayo atuh, eh ini gak apa-apa aku ikut sama kamu” Bilang Mischa padaku
“Iya
gak apa-apa kok”
“Makasih
ya” Lalu Mischa duduk di jok belakang motorku, ia sedikit canggung padahal kau tahu
jok belakang motor satria itu tinggi setidaknya kau harus memegang pundak si
driver untuk membantumu naik.
Bersama
khasnya derap angin Bandung nan dingin, aku membuat Jalan Sersan Bajuri semakin
begitu, kau tahu aku adalah tipikal orang yang pendiam dan sangat sulit untuk
berbicara, aku memang tidak dilahirkan untuk bawel dan tidak akan berbicara
jika tak ada duluan yang bertanya. Kau boleh tahu hanya ada beberapa teman saja
yang bisa mendengar banyak suaraku dan mungkin yang paling sering itu adalah
Sisi karena dia memang telah lama mengenalku dan aku sudah 8 tahun bersahabat
dengannya, sehingga dia punya pengecualian untuk tidak bilang kalau aku pendiam.
Sesungguhnya
aku memang tidak nyaman dengan sifatku yang begini, menjadi pendiam telah membuatku
kehilangan banyak kesempatan, salah satunya kesempatan untuk mendapat kesan
baik dari orang yang baru aku kenal.
“Kamu
teh memang temen deketnya Sisi ?” Akhirnya Mischa memulai pembicaran setelah
motor berlalu setengah jalan.
“Iya,
deketan juga kok rumahnya”
“Oh”
“Kalau
kamu asli mana ?” Aku seperti berusaha untuk tidak membuat hening cepat kembali.
“Aku
mah asli Kuningan, tahu kan ?”
“Oh
iya tahu tahu”
Dan
lalu aku tidak pandai untuk bisa cepat menemukan topik bicara, tiap ingin
bicara lagi aku selalu memfilternya ulang karena aku tidak ingin salah bicara,
tadinya aku berusaha memberikan kesan baik ke Mischa tapi dengan terciptanya
lagi hening seolah menjawab kalau aku itu salah.
--0--
Aku
tiba di tempat sekitar jam 6 sore, itu lebih lama dari yang aku kira karena
jalanan lebih macet dari yang aku fikir. Aku kecewa, sekarang Bandung
dimana-mana macet tidak kayak dulu waktu jaman Nabi Adam.
“Yuk
masuk” Sisi mengajakku untuk masuk bersama juga yang lainnya, dan aku tidak
tahu apa memang perlu atau tidak, tapi dia menggandeng tanganku.
“Kamu
perform disini ?” Tanyaku
“Iya”
“Sama
si Mischa juga ?”
“Engga
dia mah bantuin jadi MC”
“Oh,
eh ini kenapa harus gandeng tangan ya ?”
Bukan
maksudku tergangggu dengan itu aku hanya ingin tahu apa memang ini perlu atau
tidak.
“Kenapa
memangnya gak boleh ?”
“Ya
gak gitu”
--0--
Jemari
mulai merasa dingin oleh tusukan angin, warna gelap sangat dominan berhias di
atas kepala, dan kebisingan suara petasan mulai bisa kau dengar dari sekarang.
Kini sudah jam 11 lewat 50 menit malam dan hanya butuh beberapa menit saja untuk tiba di tahun yang baru, tapi
sayang itu tidak membuat aku cukup senang, aku sendiri diam duduk bersama satu
gelas Hot Coffe, di depan panggung sana aku melihat dua orang host yang bahkan
aku yakin mereka tahu kalau tak ada yang memperhatikannya, aku kasihan pada
mereka karena terutama ku tahu salah satu hostnya adalah Mischa, tapi kau tidak
bisa menyalahkan yang lain, yaitu mereka yang sedang menikmati petasan atau
kegiatan lainnya, aku juga tidak bisa menyalahkannya, menyalahkan Sisi yang aku
lihat sedang bersenang-senang dengan
yang lainnya. Dia bersama teman-teman lain yang dikenal sedang asyik
bersenang-senang bersama canda-candaan juga gitar yang merdu dari salah satu
teman laki-laki lainnya. Aku tidak bergabung bersama mereka karena aku sudah
bilang kalau aku tidak mudah melebur dengan orang-orang, aku tidak akan bicara
jika tidak ditanya dan aku tidak akan bergabung jika tidak diajak, lagipula aku
tidak bisa main gitar dan itu membuat aku canggung untuk bergabung.
“Hey
kayaknya kita pulangnya besok pagi aja yah, sudah malam banget soalnya” Jam 1
malam Sisi bicara begitu ketika akunya sudah kecewa karena ekspektasi untuk
merayakan tahun baru dengannya tidak terjadi.
“Ehmmm,
tapi…”
“Sudah
gak apa-apa, kamu besok pasti santai kan ? Tanyanya “Santai lah kan kamu cuma
penulis lepas jadi banyak waktu luang nya”
“Eh
?”
Untuk
sekarang kau tahu aku memang cuma hanya seorang penulis lepas yang bisa kau
bilang tidak punya pekerjaan tetap setiap harinya, aku menjalani itu karena
memang di usia 19 tahun ini aku belum punya pekerjaan yang mapan dan akunya
juga yang memang tidak kuliah, aku tidak marah jika kau ingin bilang aku
pemalas tapi aku tidak suka untuk terus seperti itu, apalagi sekarang kau tahu
aku ini punya motivasi, jika kau ingin tahu sampai usia 19 tahun ini aku sama
sekali belum pernah pacaran karena dengan sebuah alasan akunya yang tidak
percaya diri dalam melakukan pendekatan ke perempuan, dan ku rasa itulah yang
menjadi motivasiku sekarang, begini, bagiku dalam mendekati perempuan, notice
menjadikannya pacar, laki-laki tidak bisa hanya sekedar modal bicara atau
hal-hal lain yang kau buat, untuk keinginanmu menjadikannya pacar setidaknya
laki-laki harus berusaha untuk menjadi mapan karena bahkan jika wajahmu tampan
pun itu tidak terlalu menolong.
Maka
sekarang setidaknya aku harus punya hal
lain selain hanya menjadi penulis lepas, menciptakan sesuatu yang membantu meningkatkan
rasa percaya diri, untuk mendekati yang namanya cinta juga untuk membuatnya
berhenti berkata kalau aku itu cuma.

Komentar
Posting Komentar