Intuisi
“Mug kok kamu motret terus sih ?”
“Ge, dunia ini terlalu indah untuk
hanya kamu lihat sekali”
“Terus apa harus motret ke tempat
yang jauh ?”
“Di tempat yang jauh aku bisa
menemukan banyak arti”
“Apa itu perlu ?, saat di tempat yang
dekat saja kamu sudah menemukan satu arti yang pasti”
--0--
Hai aku Ghaitsa, kau bisa memanggilku
Ge, aku adalah perempuan dengan kegemarannya pada melukis, jika kau datang ke
rumahku lalu diizinkan masuk ke kamar
maka kau akan menemui dimana dinding-dinding kamar penuh dengan lukisan hasil
karyaku, itu sangat bermacam tapi kau tahu ada satu lukisan yang untuk waktu
yang lama sengaja tak ku selesaikan karena satu buah alasan. Itu adalah lukisan
yang telah aku mulai rangkai sejak tiga tahun lalu. Entah, walau aku tahu aku
bisa menyelesaikannya sendiri aku memilih tidak melakukan itu, aku semacam
berintuisi bahwa lukisan itu baru bisa selesai jika warna yang ku mau bersedia
menyempurnakannya.
Kau tahu ku kira setiap manusia itu
punya minimal satu hal yang tidak bisa ia selesaikan sendirian, maksudku itu
pun termasuk jika kau sudah merasa sangat bisa, kau akan tetap merasa butuh
orang lain untuk menyelesaikan satu keinginanmu, ku kira kau setuju dan itu
sekarang yang sedang aku rasakan.
--0--
Dan
mari kenali dia, maksudku adalah Mugy, laki-laki yang ku kenal berawal dari
teman SMA, aku tak akan pernah lupa momen awal aku kenal dengan dia.
Aku
masih ingat saat itu sepulang sekolah diantara detik-detik akhir senja dia
menjadi orang yang menemaniku menunggu selain juga ada Nadine, temanku.
“Aku
masih nunggu yang jemput” Ucapku pada Mugy yang ada disebelah
“Oh
ya sudah kalau begitu aku temani tunggu disini”
“Huh
?”
Kau
tahu waktu itu aku berpikir “Kenapa dia
tidak bilang saja ingin mengantarku” ,
maksudku kan dia disitu bersama motornya, aku juga lihat dia bawa helm dua,
jadi seharusnya dia tidak punya alasan untuk tidak bilang begitu apalagi
beberapa saat kemudian Nadine pulang duluan dan aku masih menunggu.
Peristiwa
itu masih tak aku dapati jawabannya, bahkan sampai sekarang, ketika aku dan dia
sudah sangat dekat dan sampai pada waktu yang membawa aku dengannya ada disini,
di Situ Patenggang, salah satu tempat indah yang ada di kawasan Ciwidey, Jawa
Barat, aku ada disini karena diminta menemaninya memotret, dan entah aku selalu
merasa senang ketika dia memintaku begitu, mungkin semacam karena aku yang
selalu merasa betah atau nyaman saat berjarak dekat dengannya, kau tahu ada
perasaan lain ketika itu.
Masih
tentang dirinya, dia memang begitu sangat menyukai kegiatan Photography atau
mungkin sekarang bisa dibilang itu memang pekerjaannya walau kadang juga dia
suka menghentak ketika aku bilang begitu “Engga
Ge, ini tuh bukan masalah pekerjaan, ini tuh hobi, lebih dari itu”.
Aku suka heran dengan kalimatnya yang
itu karena di saat bersamaan dia tidak pernah menolak setiap uang yang diberi
untuk hasil fotonya.
--0--
“Aku
mah duduk disini aja ah” Kataku ke Mugy.
Maksudku aku membiarkannya berada di
sudut sana sendiri, memfokuskan diri untuk mendapatkan sudut terbaik untuk bisa
di potret, aku cukup hanya duduk disini di depan batu kerikil besar yang
kemudian aku tutupi dengan satu kanvas, itu adalah satu kanvas berpenghuni
lukisan yang lama tak selesai itu, kau tahu aku memang selalu membawa ini
ketika jalan berdua dengan Mugy karena aku masih berintuisi jika warna yang
bisa menyelesaikan lukisan ini tersedia di tempat yang paling dekat.
“Serius,
ini pemandangannya enak dilihat banget lho”
“Ini
juga enak dilihat” Yang ku maksdud
adalah lukisanku.
“Ha
Ha, mau sampai kapan lukisanmu itu gak di selesain ?”
Mugy memang tahu itu tapi aku heran
karena ia selalu hanya bertanya satu pertanyaan seperti itu saja tanpa pernah
bertanya hal lain seperti alasanku tidak menyelesaikannya, seharusnya dia
bertanya begitu karena dia harus tahu alasanku.
“Aku
bingung saja kalau harus menyelesaikan ini sendiri”
“Masa
perlu aku bantu” Dengan masih memegang kameranya Mugy bicara begitu.
“Huh
?”
“Nanti
sudah selesai motret aku bantu lukisanmu itu”
Kau
tahu aku sangat senang dengan jawaban itu, aku merasa seperti sedang didatangi
oleh suatu hal yang sudah lama aku tunggu.
Apa
mungkin ini adalah waktu yang baik untuk membuat dia akhirnya tahu tentang
warna yang aku tunggu itu.
Sedianya
untuk sekarang ini hatiku sedang merasa seperti sebuah gelombang yang kembali
menemukan jalur untuk berarus di lintasan yang panjang, kau tahu untuk beberapa
waktu gelombang itu sempat hanya diam
karena merasa lintasannya terputus-putus, walau tidak pernah keluar dari
lintasan gelombang itu selalu seolah tak ingin sampai pada tujuan yang diingini
karena lintasan yang ia pijak tak pernah memberi kepastian untuk menjadi satu
kesatuan utuh bagi si gelombang.
Ku harap sekarang ini lintasan itu
akan menjawab penantian si gelombang.
“Sudah
motretnya ?” Tanyaku ketika Mugy mendekat
“Sudah,
sini mana aku lihat lagi lukisanmu”
Ia menyingkirkan dirinya untuk ada di
depan lukisanku, ia nampak akan memenuhi janjinya itu.
“Aku
itu sebenarnya gak bisa ngelukis” Lanjutnya “Tapi gak apa-apalah, demi kamu“
Jika ada ungkapan yang melebihi
istimewa ku rasa aku akan menggunakan itu untuk memposisikan diri bagi telinga
yang baru mendengar kalimat manis barusan, kau tahu bahkan dalam hati aku terus
berteriak “Akhirnya Mugy, akhirnya,
akhirnya”.
“Ini
tuh sebenarnya kamu mau lukis apa sih Ge, dua orang terus ada motor lagi”
“Ehmm,
gak tahu aku pengen aja lukis itu”
Kau tahu aku berusaha memancing pada
rasa pekanya, diantara matanya aku berharap dia bisa mengingat satu moment yang
berkaitan dengan dua orang dan satu motor itu.
“Pantas
saja gak selesai selesai, orang kamunya aja gak tahu ngelukis apa, Ha Ha..”
Disini
angin makin mengencang sebagai bukti bahwa langit sudah senja, diantaranya
batu-batu hitam itu menjadi palang untuk mereka yang merasa kedinginan. Ciwidey
memang begitu ada rasa lebih yang membuat tubuhmu bisa merasa sangat dingin
walau bisa juga membuatmu tidak merasa begitu terutama bagiku yang sekarang ada
di pulau asmara.
“Mug,
kita tuh ada di Pulau Asmara lho ini” Aku mencoba mengajaknya bicara saat ia
sedang membantu lukisanku.
“Iya,
tahu aku”
“Kamu
tahu gak sih mitosnya kalau pasangan yang datang kesini berdua itu bakal jadi
pasangan abadi”
“Udah
jaman gini masih percaya aja kamu sama mitos”
Ada ucapan ketus dari jawabannya tapi
bisa aku pahami karena mungkin dia sedang fokus pada lukisan.
Aku
sering heran dengan Mugy yang begitu, terkadang ia terlalu sering sibuk dengan
dirinya, disaat dia melakukan sesuatu ia
hanya ingin fokus pada itu saja dan entah sengaja atau tidak membuat beberapa
yang didekatnya terabaikan, aku sering merasakan itu apalagi jika sudah
menyangkut hal ini, menyangkut tentang yang namanya perasaaan, denganku Mugy
seperti tidak bisa untuk aku ajak membicarakan perasaan, padahal aku sangat ingin membicarakan itu
dengannya.
“Ini
kalau lukisannya bisa aku selesaikan, kamu mau ngasih apa buat aku ?” Bicara
Mugy
“Kamu
maunya apa ?”
“Serius
apa aja ?”
“Iya”
“Iya”
Kau tahu bagiku jika Mugy bisa
menyelesaikan lukisan ini, itu sudah menjadi satu kebahagiaan erat untukku, Ini
memang yang aku ingin dan tunggu karena kiranya sekarang dia sudah ada di jalur
untuk merasa peka, bagiku sih begitu.
Untuk itu sebagai bentuk terima kasih
aku akan dengan senang hati mengiyakan apa yang ia ingini sekarang, aku tahu permintaannya
takkan aneh atau bahkan akupun ada fikiran bahwa yang ia minta adalah “Ge, aku boleh minta kamu ngebolehin aku gak
untuk bilang aku sayang kamu”
Ahhh Intuisi dan imajinasiku seperti
melayang diatas angin-angin rasa senang.
“Nah
selesai, gimana ? “ Mugy memperlihatkan lukisan yang sudah ia selesaikan itu.
“Bagus
banget”
“Iya
dong, Nah buat feedback aku boleh dong minta sesuatu dari kamu”
“Ha
Ha iya boleh apa ?”
“Lukisannya
boleh buat aku aja gak ?”
Tentu ini adalah lukisan yang sangat
berkesan untukku dan sangat senang jika aku bisa memajang ini dikamar, tapi
jika memang Mugy ingin memilikinya itu tak apa, setidaknya aku masih bisa
melihat lukisan ini jika berkunjung ke rumahnya.
“Iya
boleh kok”
“Serius,
Ge ?”
“Iya
gak apa-apa ambil saja”
“Ah,
terima kasih banyak Ge. Kira-kira Nadine senang gak ya kalau aku tembak pakai
lukisan ini ?”
“Hah
?”
“Iya
kira-kira dia nerima aku gak ya, Ge ?”
Mendengar itu aku serasa ingin bisu
saja saat ini, aku benci dengan ungakapan patah hati, tapi bagaimana, sekarang
aku sedang merasakan itu.
Ternyata
ada yang lebih buruk dari satu lukisan yang tidak selesai, yaitu saat dia
memilih warna yang tak sesuai untuk menyelesaikannya. Aku menyesal kenapa harus
memuji bagus pada sesuatu yang ternyata menyakitiku, aku menyesal kenapa harus
memiliki intuisi yang justru itu salah.
Seharusnya
dari waktu itu aku bisa peka bahwa Mugy memang tidak berperasaan sama
sepertiku, seharusnya aku sudah bisa mengetahuinya sejak dia lebih memilih
menemani menunggu daripada mengajak pulang bersama, atau dari yang terbaru
harusnya aku bisa peka ketika dia memang tidak pernah mau diajak membicarakan
perasaan denganku.
Intuisi
tentang Mugy adalah cinta sejatiku ternyata salah dan lukisan yang aku buat itu
juga hasilnya tak sesuai.
Mungkin
sekarang yang paling penting adalah jika kau punya intuisi pahamilah saja itu
dulu, pastikan dengan betul apa itu benar intuisi yang nyata atau hanya sekedar
membuatmu bahagia dalam angan-angan.

Komentar
Posting Komentar