Change #2
Aku selalu percaya jika
alasan bertemu dengan tekad yang kuat maka tujuan bisa kau dapatkan dengan
baik.
Angin lain aku rasakan pagi ini, tempat baru sudah aku
singgahi untuk sebuah sebab yang aku senangi. Pagi ini aku sudah ada di
Yogyakarta untuk sebuah urusan pekerjaan. Kau tahu aku sangat bersyukur untuk
apa yang sudah aku dapat sekarang, maksudku aku sangat senang karena
sekarang statusku bukan cuma
seorang penulis lepas tapi lebih dari itu, bidangku tetap sama masih di
dunia penulisan hanya saja Tuhan sedang memberiku sebuah jawaban dari apa yang
namanya kerja keras. Tiga bulan lalu aku baru saja menerbitkan buku pertama
yang aku buat dalam tempo yang tidak sebentar, hasilnya sangat aku syukuri
karena tak ku sangka responnya sangat luar biasa, bukuku masuk dalam salah satu
buku dengan penjualan terbaik di beberapa waktu terakhir ini, dan karena hal
itu aku ada disini untuk sebuah acara talkshow yang mengundangku untuk menjadi
pembicara. Bayangkan aku yang kau tahu dulu adalah manusia pendiam bisa
mendadak akan berbicara pada banyak orang, itu kadang menjadi hal yang
membuatku bingung tapi nyatanya itu telah menjadi rutinitasku di beberapa waktu
terakhir ini.
Tiga bulan ini aku cukup disibukkan dengan kegiatan yang
bisa aku bilang inilah pekerjaanku sekarang, mendatangi banyak tempat untuk
memenuhi undangan Talkshow ataupun kegitatan Book Signing, aku senang karena
sekarang serasa punya banyak tanggung jawab dan itu terjadi karena satu
motivasi yang aku katakan waktu itu.
Kau masih ingat satu malam di tahun yang baru itu, aku
pernah bilang kalau mulai saat itu aku punya motivasi untuk memperbaiki diri,
motivasinya mungkin masih bisa kau bilang sepele karena itu adalah Cinta, aku
sangat akan menerima untuk apa yang akan kau katakan padaku, tapi biarlah aku
yang meninggikan sendiri motivasi itu.
Aku bilang aku butuh modal untuk mendekati yang namanya
cinta setidaknya aku harus bisa tidak cuma menjadi seorang penulis lepas.
Waktu itu aku bilang begitu
dan aku bersyukur aku bisa mewujudkannya.
--0--
Rencananya aku hari ini akan kembali
ke Bandung untuk sebuah tujuan itu, tadinya aku sudah ingin ke Bandung dari
kemarin-kemarin karena Sisi berulang kali menghubungi meminta aku kesana.
“Kamu kapan ke Bandung ? kayaknya
sejak nerbitin buku kamu jadi jarang kesini deh” Katanya waktu itu di telepon.
Sejak menerbitkan buku aku memang
menetap di Jakarta, bukan karena tidak suka Bandung hanya saja disana aku bisa
lebih mengkordinasi pekerjaanku menjadi lebih cepat.
“Kenapa memangnya kamu kangen ?”
“Menurutmuuu… ?”
“Ha Ha”
Sisi tidak sering menjawab begitu
setiap ketika ku tanya apa dia rindu, tapi sekarang dia seperti sedang berharap
aku cepat disana untuk sebuah hal yang telah ia fikirkan.
Setelah selesai dengan acara di
Jogja aku akan langsung ke Bandung karena kau benar aku sudah siap untuk itu.
Satu buah kado telah bersamaku dan jika kau ingin tahu isinya, ini hanya
gelang, iya memang hanya gelang, kau boleh bilang aku tidak cukup pandai dalam
memilih hadiah, dan itu akan aku terima, gelang yang akan aku beri pun tidak
terlalu mewah hanya saja ada inisial huruf perempuan yang aku cinta itu, dan biar bagiku ini istimewa meskipun menurutmu
tidak.
--0--
Aku tiba di Bandung
cukup sore ketika kau sudah tak bisa melihat matahari ceria, aku mampir
sebentar ke rumah orang tuaku yang di Cipaganti untuk sekedar membawa motor
Satria FU150R yang memang selama di Jakarta aku tinggali disini, dengan itu aku
akan kesana menemui seseorang yang tinggal di salah satu kostan jalan
Dipatiukur.
Setelah cukup lama aku
senang akan bertemu dengannya lagi, semoga disana dia merasa sama sepertiku
--0--
“Hey Nandan, akhirnya datang juga kamu” Sisi menyambutku ketika
aku sudah di depan kostnya.
“Hey, sendiri ki ?”
“Kenapa memangnya ?” Tanyanya “Eh sini-sini Nan”
Sisi menarik lenganku untuk
ikut bersamanya duduk di teras, kami tidak ke dalam karena memang ini kostan
perempuan.
“Ada apa ?”
“Aku kangen tahu Nandan, kamu mah sudah nerbitin buku teh
malah jadi sibuk”
Aku
cukup heran dengan kalimatnya yang itu padahal harusnya ia tahu aku begini
karenanya.
“Eh
bawa apa itu Nan ?” Tanya Sisi menunjuk hadiah yang aku pegang di tangan kiri.
“Ini…Eh”
Sisi
langsung mengambil itu dari tanganku
“Padahal
mah gak usah pakai hadiah segala, kamu datang kesini saja aku sudah senang”
“Enggak,
itu…”
“Wah
gelang” Ia melihatkan rasa senang ketika
membuka isi itu “Bagus banget Nandan, aku suka”
“Eh
bentar, tapi kok ini M ?” Ucap Sisi ketika melihat ada huruf M terpampang di
gelang itu.
“Iya
M”
“Kok
?”
“Mischa”
“Hah…
?”
Aku heran ketika Sisi kaget dengan jawabanku, maksudku
aku merasa tidak salah karena aku kesini memang untuk itu, datang dan memberi
hadiah ini untuk Mischa, ku fikir kau tahu kan seseorang yang ku maksud
motivasi dan Cinta itu ya Mischa, aku sudah jatuh cinta padanya sejak pandangan
pertama dan lalu itulah yang aku maksud aku ingin berjuang memperbaiki diri
agar setidaknya bisa merasa layak untuk mendekati Mischa. Dan perkataan Sisi
malam itu yang berkata kalau waktu itu aku
cuma penulis lepas memang telah
membangunkanku, karena dari situ aku sadar aku tidak bisa mendekati perempuan
dengan hanya modal begitu, apalagi ku tahu Mischa itu cantik dan baik sehingga
mungkin sainganku banyak.
“Si, mau kemana ?” Sisi pergi masuk ke dalam kamar
kostnya, dan disaat bersamaan Mischa datang dari luar.
“Eh ada Nandan” Sapanya kemudian
“Iya, Hai Mischa” Aku langsung berusaha memberi senyum
paling baik untuk membalas sapaannya.
“Itu Sisi ?”
“Gak tahu kenapa dia”
“Eh Cha, duduk deh” Aku memintanya untuk duduk
disebelahku “Ini buat kamu, tapi maaf bungkusnya sudah kebuka tadi sama si
Sisi”
“Apa ini ?” Tanyanya dan lalu kuperhatikan mata itu
sangat fokus ke arah huruf M di gelang.
“Cha aku harap waktu satu tahun lebih ini bukan jadi
waktu yang telat buat aku bilang kalau aku sayang sama kamu”
Dan aku berbicara seperti itu, sebagai seseorang yang
dulu pendiam aku tak berfikir kalau aku akan bisa mengatakan kalimat itu dengan
lancar.
“Nan ?”
“Aku Serius, mungkin kamu gak tahu Cha di waktu satu
tahun lebih aku kerja keras ini, alasannya karena kamu, karena aku ingin
membuat diri aku layak untuk bisa bilang kalimat tadi ke kamu”
Matanya menatap tak berekspresi padaku, aku tidak
mengerti arti pandangannya itu, ku harap dia sedang mencari sebuah kalimat
untuk jawaban bagiku yang semoga itu bisa membuat aku senang.
“Nandan”
“Iya..”
Lalu pelukan itu datang, keeratan bisa aku rasakan
disini, sedikit aku bisa mendengar sergahan suaranya yang seperti sedang
menahan tangis haru, dan untuk sebuah alasan aku ingin menahan ini lebih lama.
Ku rasa ini adalah jawaban darinya, aku bisa merasakan
ketulusan dari rasa peluknya.
Mishca terima kasih untuk saat ini kau telah memberi
jawaban terbaik bahwa aku tidak salah sudah berjuang untukmu.
Dan Sisi terima kasih juga, aku tidak akan lupa dengan
kalimatmu di malam tahun baru itu, kau tahu itulah yang membangunkanku. Kau
adalah sahabat terbaikku dan selamanya akan terus begitu.
Terima kasih kau telah
memperkenalkan Mischa padaku dan maaf jika ada sedikit kekecewaanmu yang
disebabkan olehku.
Komentar
Posting Komentar