Histrionic

HISTRIONIC
            Hai Aku Fuji, kau bisa memanggilku Mahasiswi tercantik dan ku kira itu memang sangat cocok untukku, kau tahu wajahku ini putih bersih, rambutku juga terurai indah, dan bahkan posturku ideal untuk bisa kau sebut model, dengan begitu aku selalu merasa akan bisa memikat semua laki-laki di sekitarku atau setidaknya bisa membuat semua teman perempuanku memujiku setiap hari. Untuk diri sendiri aku merasa sempurna dan akan selalu bisa merasa mirip Selena atau Isyana kalau Indonesia.
--0--
            Sekarang aku ini tercatat sebagai salah satu Mahasiswi di Universitas Kristen Maranatha, yaitu kampus yang bisa kau temui di Jalan Surya Sumantri, Bandung, salah satu kampus di Bandung yang bisa membuatmu merasa hebat jika menjadi salah satu Mahasiswanya, terutama bagiku Mahasiswi jurusan Ekonomi paling cantik angkatan 2015, kau yang baru tahu harus setuju dengan pernyataanku itu.

            “Hey kamu tahu si Aldo anak Teknik itu ?” Aku sedang bicara dengan Cindy di area Gedung GSG.
Disini sedang ada juga Patricia dan Zia, mereka bertiga sahabat sekaligus teman satu fakultasku.
            “Iya tahu, kenapa memang ?” Jawab Cindy
            “Kayaknya dia naksir aku deh”
            “Hah ?” Respon Patricia, mukanya agak aneh saat  mengeluarkan suara itu
            “Iya, soalnya dia like foto Instagram yang aku posting seminggu lalu”
            “Terus setelah itu kamu ngepost berapa foto lagi ?” Tanya Zia
            “Satu”
            “Huh,,..Padahal mah si Aldo juga nge like foto aku”
            “Hah, gimana-gimana ?”
            “Enggak-enggak kok”

            Aldo itu kau tahu dia adalah Mahasiswa populer di Fakultasnya, banyak perempuan yang suka ke dia tapi katanya sekarang dia masih single dan itu membuat aku yakin kalau aku memancingnya sedikit saja maka dia pasti jatuh cinta padaku, aku yakin itu, apalagi aku cantik jadi laki-laki mana yang tidak suka padaku.
            “Ya Gak Cin ?”
            “Apanya ?”
            “Aku cantik”
            “Ya Ya Ya terserah kamu deh”
            “Ih..”
            Cindy itu memang begitu ku rasa dia sirik padaku, ya memang jika dibanding denganku dia itu sudah punya pacar yaitu si Kevin Mahasiswa Ekonomi juga dan keren, tapi kan hal itu bukan acuan untuk dia jadi tidak sirik padaku, secara kurasa aku lebih cantik darinya juga aku adalah pemikat sesungguhnya hati laki-laki, jika mau Kevin juga bisa aku rebut darinya, tapi kan aku tidak begitu, aku masih menghargai Cindy sebagai sahabatku.
            “Eh aku duluan ya” Cindy bicara padaku Zia dan Patricia
            “Kemana Cin ?” Tanya Patricia
            “Ini Kevin ngajak ketemuan“
            “Ciee…eh btw aku fikir kalian emang cocok sih” Bilang Zia “Yang satu ganteng yang satu cantik”
            “Ha Ha Ha”
            “Fuji, aku duluan ya”
            “Oh iya”

            Bandung masih siang, udaranya masih memintamu untuk jangan pakai jaket, aku masih ingin duduk disini karena lantainya tidak kotor juga kelasku baru akan mulai nanti sore.
            “Eh lihat-lihat deh, Zi, Pat”
            “Hmmm, aku mau ke kostan dulu ” Potong Patricia
            “Eh, aku aku ikut Pat” Lanjut Zia
            “Eh kok….?”
            “Duluan ya, Fuj, byee”
Patricia dan Zia lalu pergi yang katanya akan ke kostan, tidak tahu untuk urusan apa padahal biasanya mereka hanya akan ke kostan kalau sudah malam atau diatas jam 8.
Aku heran beberapa hari ini mereka sering begitu.
            “Ih malah pada pergi aku kan mau ngasih lihat si Aldo nge like foto aku lagi”

            Aku memilih tetap disini walau sebenarnya kecewa karena mereka bertiga meninggalkanku, tapi ya sudah toh aku disini sambil menunggu kelas mulai dan bisa aku isi dengan ber selfie, itu bukan masalah kan ? jika pun di depan sana beberapa laki-laki melihatku ku rasa itu bukan karena aku memintanya, itu mata mereka yang bisa mereka fungsikan semestinya. Aku tidak merasa sedang mencoba jadi pusat perhatian aku hanya ingin berselfie saja untuk menambah postingan instagramku, kau tahu itu sudah menjadi keharusan untukku, apalagi sekarang aku sedang merasa tambah cantik dengan Dress pendek warna merah.

            “Jika Memori di Smartphone mu itu masih sisa lebih dari 2 Giga mungkin kamu akan berselfie lebih dari 30 kali dan hanya ada 2 yang akan di upload”
            “Sorry ?” Aku merespon seseorang yang ku dengar sedang mencoba bicara denganku
            “Hai” Itu laki-laki dan sedang mencoba memberi tahu namanya “Indra, Mahasiswa Psikologi angkatan 2015”
            Jujur aku baru melihat laki-laki ini sekarang, aku baru tahu kalau ada Mahasiswa Psikologi yang sekeren dia.
Tuh kan pesona ku memang luar biasa sampai ada Mahasiswa keren di fakultas lain yang kenal denganku. Jangan-jangan dia suka ke aku lagi. Ih kan……
“Kalau Kamu ?” Lanjutnya
“Hah ?”
“Iya, nama kamu siapa ?”
“Belum tahu aku ?”
“Iya kan kamu belum kasih tahu nama”
“Oh, aku Fuji” Kau paham ekspresiku saat berkata itu “Ada apa ya ?”
“Aku dari tadi nongkrong disana, sama teman-teman” Ia menunjuk ke arah di depanku yang memang ada beberapa pria yang nongkrong. “Aku ditantang sama mereka untuk nyamperin kamu kesini”
“Untuk ?”
“Maaf nih ya, aku orangnya memang ceplas ceplos saja, Kamu memang harus ya ke kampus berpakaian kayak gini ?”
Hait !... Kenapa dia bicara begitu, maksudku untuk alasan apa hingga dia tanpa canggung memberi sebuah pertanyaan seberani itu padaku yang kau tau sendiri dia belum lima menit mengenalku. Lagi pula ya, kenapa harus bertanya begitu coba karena aku merasa telah berpakaian yang normal saja, Dress pendek merah ini kurasa memang cocok untuk aku kenakan di hawa Bandung yang panas siang ini, jika lalu yang dibicarakan ini adalah karena dress ku ada di ukuran diatas lutut ku rasa itu hanya perlu di biarkan karena bukan masalah kan jika aku ingin dilihat ?.
“Memangnya kenapa ?” Aku berbalik Tanya
“Enggak, aku kira kamu pake pakaian kayak gini tuh karena ada nikahan di kampus”
“Hah ?”
            Begini ya ku kasih tahu saja, bagiku memakai Dress itu bukan hanya untuk ketika kau ingin datang ke nikahan saja tapi bisa juga untuk kau pakai kemana saja, termasuk ke kampus. Begini deh kalau kau wanita dan punya wajah dan body sepertiku pasti kau juga ingin sering memakai dress, kau harus setuju kalau itu bisa membuatmu dilihat karena kecantikanmu terutama bagiku yang sudah begitu.
           
            “Handphonemu bunyi tuh”
            “Oh iya”
            Aku mengalihkan diri untuk mengangkat telepon, itu harus ku lakukan karena kau tahu itu adalah telepon dari Bu Dini, salah satu dosen yang punya sifat judes.
            “Iya, Halo Bu”
--0--
            “Ih gak diangkat terus lagi”
            “Kenapa”
            Aku berkerutus, karena kau tahu sekarang aku sedang kesal daritadi aku mencoba menelepon Cindy tapi tak kunjung juga ia angkat, padahal sekarang ini cukup penting.
            Tadi Bu Dini menelponku karena urusan tugas, katanya tugasku ada kekurangan dan sore ini juga sebelum kelas aku harus menyelesaikannya, kau tahu itu tidak simple karena aku harus ke Buah Batu untuk mendapatkan bahannya, dari tadi aku menelepon Cindy karena aku ingin meminta bantuannya untuk mengantar tapi dia malah tidak menjawab teleponku, begitu juga dengan Patricia dan Zia, aku heran kenapa akhir-akhir ini mereka jadi memberi gerak untuk tidak dekat denganku.
            “Ini aku telepon Cindy dari tadi gak diangkat terus” Aku  menjawab pertanyaan Indra
            “Cindy ?”
            “Iya”
            “Ada urusan apa memang ?”
            “Tugas, aku harus ke Buah Batu buat nyari bahan, tadi Dosen telepon katanya sore ini harus sudah beres”
            “Mau aku antar ?” Indra menawarkan dirinya untuk itu.
            “Hah ?”
            “Iya, aku antar”
            “Gak usah nanti ngerepotin”
            “Daripada tugas kamu tidak selesai ?”
            “Ya udah deh kalau kamu maksa”
            “Hah ?...Okey”

            Lalu aku ditemani Indra bersama motor Satria Ninja hijau miliknya, aku berterima kasih karena dia baik dan membantu, sekarang kau mengerti kan bahwa penampilan juga berpengaruh, mungkin memang saat pertama melihatku Indra mengomentari pakaian atau penampilanku tapi akhirnya ku kira karena itu juga Indra jadi ingin membantuku, ah laki-laki kebanyakan memang begitu pandai mencari kesempatan, terutama kesempatan untuk dekat denganku.
            “Makasih ya Indra sudah mau antar”
            “Iya, aku senang kok bisa bantu banyak orang tanpa alasan mencari kesempatan”

            Di depan Indra sedang bermulti tasking, ia mengendarai motor dengan tetap mengajak ngobrol aku, bahkan itu masih tetap berlangsung sampai setengah perjalanan, ku rasa ya dia itu senang mendengar suaraku, atau mungkin sedang memberi gerik tertarik padaku. Aku sih tidak apa-apa asal dia bisa berkendara dengan baik agar apapun yang dia lakukan dimotor aku bisa tetap merasa aman diboncengnya.
            “Kamu satu fakultas sama Cindy ?” Tanya Indra masih diatas motor
            “Iya, teman dekatku juga, kenapa memang?”
            “Oh gitu, engga, soalnya aku juga sudah kenal Cindy dari SD”
            “Oh ya ?”
            “Iya teman dekat juga kami, di Kuningan pun kami tetanggaan”
            Cindy memang tinggal di Kuningan, disana rumah orang tuanya, disini mah dia sama sepertiku ngekost
            “Oh baru tahu aku” Lanjutku
            “Bahkan banyak juga kan hal lain di dunia yang belum kamu tahu ?”

            Ih…, Kau tahu sejak perkenalan pertama kami beberapa jam lalu, ku rasa Indra telah banyak membicarakan atau memberi penilaian untukku di depan akunya sendiri, ku rasa dia memang tidak bohong tentang pengakuannya sebagai orang yang ceplas ceplos itu, tapi kau tahu aku sedikit terganggu oleh itu.
           
“Kamu sudah kenal banget dong sama Cindy ?” Giliran aku yang coba banyak tanya padanya.
            “Bisa dibilang begitu, dia itu tipe orang yang caring banget sama sahabatnya”
            “Masa ? tapi aku ini lagi butuh bantuan dia, dianya malah gak bisa dihubungi”
            “Terakhir dia bilang mau kemana ?”
            “Ketemu si Kevin”

            Sekarang aku tidak tahu sedang ada di jalan mana, motor masih terus berlaju dan angin jalanan semakin terasa, kata Indra aku tidak perlu panik karena ia sudah paham jalanan Bandung jadi bisa tahu arah mana yang akan membuat cepat sampai.
            “Nih ya, Ji” Indra melanjutkan bicara “Cindy itu tipe orang yang bahkan ketika dia lagi sama pacarnya dia bakalan tetep datang untuk nyamperin sahabatnya yang butuh bantuan”
            “Tapi, ini ke aku engga, aku kan sahabat deketnya ?”
            “Ehmmm,.. Aku gak tahu tentang itu apa benar atau engga, tapi gini deh kamu terakhir kali minta bantuan dia untuk apa ?”
            “Kemarin sih, aku minta bantuan dia sebagai saksi di depan anak-anak DKV”
            “Untuk”
            “Untuk mengiyakan omongan aku ke anak DKV, kalau aku pernah jadi cover di majalah Maxim”
            “Hah ?”
            “Iya,  soalnya dia memang tahu itu”
            “Bukan, maksudku sepenting itukah popularitas buat kamu ?”
           
Aku tidak menjawab pertanyaannya, bukan karena tidak tahu jawabannya, ku fikir karena itu sudah jelas, popularitas itu PENTING. Bagiku memang begitu, kau tahu sebagai Mahasiswi cantik aku merasa memang perlu dikenal, itu telah menjadi keharusan yang sudah aku niatkan.
            “Kamu sempat kefikiran gak”  Indra melanjutkan bicara “Akhir-akhir ini Cindy dan teman-teman kamu yang lain agak menjauh dari kamu itu karena mereka terganggu dengan sifat kamu yang terlalu Histrionic”
            “Hah apa itu ?”
            “Itu sebuah gejala yang mungkin karena kamu tidak tahu jadi kamu merasa biasa saja”
            “Hah apaan sih, itu mah karena mereka aja kali yang sirik karena aku cantik dan populer”
            “Ji, kalimat itu tadi yang jadi salah satu alasan Cindy gak angkat telepon kamu”
            “Maksudnya ?”
            “Kadang orang tidak bisa jujur kalau mereka terganggu dengan satu sifat temannya”

            Masuk ke jalanan yang sedikit macet Indra  memelankan laju motornya, aku sudah tahu sekarang ada di jalan mana, ini sudah dekat dengan tujuanku.
Ketika hanya perlu beberapa meter lagi untuk sampai hening berdewa diatas motor, Indra tidak lagi bicara seperti sudah tak lagi tertarik dan aku tidak tahu apa yang harus dibicarakan lagi. Di jok belakang aku hanya menatap ke arah spion yang memberikan celah untuk bisa melihat wajahnya, kau tahu di wajah itu aku seperti melihat sebuah kejujuran tentang memberi penilaian secara spontan.
Aku masih tidak tahu apa arti Histrionic, tapi aku jadi ingin mencari tahu apa itu. Aku mencerna betul kalimat-kalimat terakhir yang Indra katakan padaku, yaitu kalimat yang mengarah pada alasan kenapa Cindy tidak mengangkat teleponku juga Patricia dan Zia yang seolah bertindak sama.

“Makasih ya sudah antar” Kataku saat sudah turun dari motor
“Sama-sama” Jawabnya “Eh di sebelah tempat itu ada toko buku, kalau kamu tertarik disitu ada buku yang menjelaskan apa itu Histrionic”
“Oh oke nanti aku kesana”.

Untuk yang terakhir aku tahu apa yang harus aku baca.

HISTRIONIC adalah pencari perhatian konstan, gejala yang mengharuskan seseorang untuk menjadi pusat perhatian dalam segala hal dan kadang itu dilakukan dengan cara memanipulasi. Individu Histrionic adalah individu yang tidak paham dengan kondisinya karena yang merasa terganggu adalah orang-orang disekelilingnya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Detik

Solo Travelling

Atas Nama