Mahameru Tidak Seru

(1)



"Feb, aku tunggu di bawah ya”. Teriak Kiki dari lantai bawah.

         Namaku Febi,  Mahasiswa di salah satu perguruan swasta di Bandung, aku kini ada di semester 3 dalam Fakultas Ilmu Psikologi.
            Aku memiliki sahabat dia adalah Kiki, perempuan yang telah aku kenal sejak kelas 1 SMP, semenjak itu pula hingga kini aku masih tetap bersahabat baik dengannya, kami selalu bersama-sama dan itu berlaku untuk berbagai hal kecuali ketika dia ingin ke toilet dan aku tidak boleh mengantar
            Hari ini kami akan naik gunung dan puncak Mahameru adalah tujuannya, ini adalah pengalaman pertamaku naik gunung, sedangkan untuk Kiki ini akan jadi yang ke lima kalinya atau lebih dari itu. Kiki memang sangat suka naik gunung dan melakukan aktivas lain yang umumnya dilakukan laki-laki, dia bisa main gitar, suka taekwondo, dan makan lima cabe, bahkan aku kalah. Aku justru kebalikan darinya tidak banyak aktivitas laki-laki yang aku jagoi, paling aku suka futsal itupun aku lebih sering memilih jadi kiper karena setidaknya itu mengurangi rasa cape karena lari.
            Kata tetanggaku, si Mang Daman mungkin nama kami itu tertukar, karena kalian tahu sendiri nama Febi kebanyakan dipakai oleh perempuan dan nama Kiki kebanyakan di pakai oleh laki-laki. Tapi aku tidak setuju dengan si Mang Daman karena nyatanya selama bersahabat dengan si Kiki hanya aku yang bisa kencing berdiri.

            “Iya ini lagi packing, tunggu sebentar” Aku menjawab teriakannya juga sama dengan teriak.
            Hari ini, jam 4 sore nanti aku akan berangkat menuju Malang dengan menggunakan kereta api dari Stasiun Kota Bandung. Tiketnya sudah kami pegang masing-masing sejak seminggu lalu, dipesan oleh Kiki dan pakai uangnya pula, kalau lagi baik kami memang suka saling mentraktir setidaknya itu adalah salah satu alasan kami awet sahabatan.

         Tiga puluh menit sebelum kereta datang kami sudah ada di stasiun dengan tas besar yang dibuat gemuk karena barang bawaan, tasku lebih gemuk daripada punyanya Kiki karena mungkin barang bawaanku lebih banyak, dan aku membuat diriku repot sendiri.
         “Bentar ih, capek.” Aku rehat di sebuah kursi depan stasiun karena merasa lelah berjalan dari turun taksi hingga stasiun. Kau tahu tasku lah itu yang membuat capek.
         “Karek ge nepi dieu ges capek” Jawabnya.
Itu Bahasa Sunda, artinya adalah Baru juga sampai sini sudah capek.
         “Berat ini tasnya, Kiki”
         “Emang bawa apa aja sih itu?”
         “ Makanan, minuman, jaket..”
         “Terus ini apa ?” Tanya Kiki memperlihatkan satu barang yang aku bawa
         “Itu ya kain, masa gak tau sih”
         “Iya aku tau, tapi buat apa bawa ini, Febi..?”
         “Ya biarin weh atuh”
         “Mana warnannya merah lagi, aku gak suka tahu warna merah”
         “Kenapa ?”
         “Ya gak suka aja”

         Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai kegiatan naik gunung, meskipun aku tahu bahwa naik gunung adalah salah satu kegiatan menyenangkan, kata si Kiki sebagai manusia kita ini harus pernah minimal satu kali naik gunung agar nanti saat tua kita punya cerita untuk anak cucu, dan aku setuju itu, hanya saja aku tidak suka naik gunung karena takut kehilangan sesuatu apalagi jika itu berharga.
         “Cemen banget sih kamu” Jawab Kiki ketika waktu itu aku sempat menolak ajakannya naik gunung.
         “Ya aku kan belum pernah naik gunung sebelumnya”
         “Tenang kan aku udah sering naik gunung, pengalaman itu bisa jadi jaminan yang aku kasih supaya kamu aman disana”.
         “Ya udah deh aku mau”. Setelah menghabiskan beberapa menit untuk bicara akhirnya waktu itu aku menerima ajakan Kiki untuk naik gunung.

         Tepat jam 4 sore kereta kami berangkat, kami menggunakan kereta api Malabar jurusan Stasiun Kota Malang dan perkiraaan kami akan sampai disana jam  7 atau 8 pagi besok, maka Aku dan Kiki akan bermalam di kereta untuk menikmati keindahan alam yang gelap lewat jendela.
        
         Sesuai prediksi kami tiba di stasiun kota Malang jam 8 pagi, dan langsung mencari kendaraan untuk ke pasar tumpang.
         Dari pasar tumpang kami naik mobil jeep bersama beberapa rombongan lain, itu akan mengantar kami ke Ranu Pane untuk selanjutnya mengurus beberapa perizinan untuk bisa mendaki, di mobil jeep itu aku lihat Kiki bisa begitu akrab dengan rombongan lain, dan itu membuatku percaya bahwa ia adalah pendaki sejati.

         Lalu perjuangan kami benar-benar dimulai, kami akan memulai perjalanan, kata salah satu orang yang tadi satu jeep dengan kami idealnya untuk sampai di puncak mahameru bisa sampai 3 hari 2 malam, dan itu sudah merupakan waktu yang cepat. Jalur utamanya kami akan melalui Ranu Pane-Ranu Kumbolo-Kalimati-Arcopodo-Puncak Mahemeru dan dari semua tempat itu kami akan mengawalinya dengan Bismillah.
Bismillahirohmanirrohim.

         Harus tahu saja aku merasa cukup baik, maksudku di pendakian ini aku tidak mudah merasa lelah atau malah aku merasa lebih bersemangat dari si Kiki, malah si Kiki aku lihat beberapa kali ia terhenti untuk seperti merasa kelelahan. Iya ini memang aneh.
         Tapi ketika tiba di Kalimati aku sempat bicara padanya meminta untuk tidak melanjutkan pendakian ini, kau harus tahu aku bicara begitu bukan karena capek walau akhirnya aku bicara seperti itu juga.
         “Kenapa ?” Tanyanya saat aku minta untuk berhenti.
         “Capek”
         Sebenarnya aku tidak capek, atau iya cukup capek tapi tidak parah dan masih sangat bisa untuk lanjut jika mau, alasanku meminta berhenti adalah karena aku lihat wajah Kiki pucat, dan itu ku lihat jelas, putihnya memang karena pucat bukan karena warna kulit cantiknya.
         Padahal tadi saat di pos perizinan, Kiki dinyatakan sehat dan baik-baik saja, untuk apa yang membuatnya menjadi pucat mungkin itu disebabkan oleh hawa Mahameru juga dakiannya yang memang berat.
         “Udah ayo lah Feb tanggung, atau biar gampang itu tasnya disimpen disini aja, bawa barang-barang yang perlu aja”
         Aku pun akhirnya memutuskan untuk tetap melanjutkan dakian bersama Kiki, dan juga 4 orang dari rombongan lain, dan tas besarku memang ditinggal aku hanya membawa tas kecil yang isinya air minum dan kain warna merah itu.
         “Kenapa ini kain masih dibawa, Febi..?”
         “Ya gak apa-apa atuh, bebas kan”
         “Ih penting banget sih”

         Semakin mendekati puncak aku bisa merasakan sendiri rintangannya yang semakin berat, disini bukan hanya dakian yang harus dilalui melainkan juga yang lainnya, disini mental juga bicara bahkan langkah dan arah mata angin pun harus kau pahami betul, maka aku sekarang jadi menyesal saat sekolah dulu sempat menyepelekan pelajaran fisika dan biologi.
         “Feb hati-hati” Bilang Kiki yang langkahnya ada di depanku.
         Sekarang para pendaki memang harus sangat ekstra hati-hati, di atas beberapa bebatuan mulai turun dan akan membuat siapa pun yang terkena akan terpental, itu membuat aku waspada atau takut dan tentu aku berharap diantara kami tidak ada yang terkena itu.
         “Awass…” Kami berteriak untuk saling mengingatkan ketika melihat ada batu yang jatuh.
Secepat mungkin aku menyamping ketika melihat ada batu mendekat, dan itu juga yang dilakukan yang lain.

         “Kiki Awas….” Aku berteriak saat melihat ada batu besar yang mendekatnya.
         “Kikii…” Aku teriaknya lagi
        
         “Kiki…”
         Dan aku lihat Batu besar itu menerjang Kiki, berat bebannya membuat sahabatku itu terpental ke bawah, dan aku segera menghampirinya.
         “Ki.. ? Aku memegangi wajahnya dengan sebagian badannya yang ada di dekapanku “Ki bangun ki”
         Aku bersimpung dengan rasa panik, yang aku lihat matanya terus tertutup dan dia tak ada respon ketika berulang aku memukul pelan pipinya.
         Beberapa orang yang satu rombongan di dakian ikut menghampiri untuk sama-sama memberi pertanyaan “kenapa ?”.
         “Ini darahnya keluar terus” Bilang salah satu orang “coba pakai apa gitu biar ketahan dan gak keluar terus”.
         Setahuku jika manusia mengeluarkan banyak darah di tubuh itu akan memberi efek tidak baik bagi dirinya, dan setahuku juga darah bisa ditahan tidak keluar dengan menggunakan sesuatu yang padat dan melar seperti kain.
         “Aku ada kain ini” Jawabku
         “Iya-iya itu pakai kain bisa”
Lalu aku menempelkan kain merahku itu di keningnya, diantara luka-luka yang membuat darahnya terus mengucur.
         “Ki bangun ki, ayo dong ki kamu jangan pura-pura tuli”
Aku lebih panik dan sangat panik, apa yang aku takuti seperti sedang mendekat.
         “Coba nadinya cek” Bilang salah seorang.
Lalu aku memegang nadinya, mengecek apakah masih ada atau tidak, dan aku tidak perlu memberi tahu jelas apa hasilnya.
         “Kiki…….”
Aku tertunduk diantara kepalanya. meneriaki namanya dengan kencang, dan membiarkan air mataku terjatuh membasahi kain merah itu.

--o--
         Satu minggu setelah itu, aku berada di teras rumah sendirian bersama iringan lagu My Immortal dari Evanescene, aku masih bisa ingat disini, dikursi disampingku Kiki pernah bilang “Kita harus pernah minimal satu kali naik gunung agar saar tua nanti punya cerita buat anak cucu”.
         Dan aku telah lakukan itu, telah satu kali naik gunung tapi aku selalu bingung apa yang harus aku ceritakan pada anak cucuku kelak.
         Kiki tak sempat memberitahuku apa yang harus kita ceritakan jika saat naik gunung itu kita kehilangan sesuatu yang berharga.
         Tapi jikapun kelak nanti aku harus tetap bercerita pada anakku, aku hanya akan bilang begini.
            “Nak, Mahemeru tidak seru”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Detik

Solo Travelling

Atas Nama