Jangan Lupa Undang Dia
Kata banyak orang
laki-laki dan perempuan itu tidak bisa bersahabat lama, karena pasti diantara
mereka, dalam hati kecilnya menyimpan perasaaan yang jauh lebih dari itu.
Tapi
aku ingin memberi tahu, jika kalian masih percaya dengan kutipan itu ku kira kalian
memang harus kenal kami.
Aku
Tito, pemuda yang saat kecil lalu punya cita-cita jadi ultramen namun tak
kesampaian.
“Kamu gak mungkin bisa jadi
ultramen” Bilang
Ibuku satu waktu
“Kenapa ?”
“Soalnya di Indonesia gak ada
monster”
“Yah…”
Ibu ketawa, Aku kecewa.
Kau
tahu tapi sekarang aku sudah move on dari itu, aku sekarang menjadi Mahasiswa
Psikologi di salah satu Universitas Negeri di Bandung, dan aku senang oleh itu,
kau mengerti pasti ada kepuasan tersendiri ketika kita bisa kuliah di Universitas
Negeri, apalagi bagiku aku mendapat bonus, karena disini aku bisa satu kampus
dengan Irna,
Irna
itu adalah sahabatku sejak SMP, kami telah bersahabat sejak ia memutuskan
pindah sekolah dari sekolah lamanya ke sekolahku, kau tahu pembicaraan apa yang
pertama kali aku sampaikan padanya ?”
“Kamu mirip raisa” Bilangku
Irna
senyum malu.
“Tapi
kata teman-teman aku sering bohong”
Jika
ku hitung dengan jumlah usiaku sekarang, aku dan Irna sudah bersahabat 9 tahun,
dan kau tahu aku berhasil mematahkan apa yang pernah Yusti katakan.
Yusti itu temanku yang
merangkap juga sebagai mantan pacarku.
“Nih ya To” Bilang
Yusti waktu itu “ Gak bakalan ada cewek
dan cowok yang bisa sahabatan, pasti diantara mereka nyimpen perasaaan lebih di
hati kecilnya”
Aku memang tidak
setuju dengan perkataan Yusti itu, karena aku dan Irna adalah buktinya.
--0--
“Aku mah gak
nyangka To, dia udah mau nikah lagi” Ucap Irna sambil merapihkan pakaiannya.
Aku dan Irna ada di rumahnya dengan berpakaian rapih
serba formal, kau tahu aku cukup canggung berpakaian seperti ini, jika Irna
tidak memintaku untuk menemaninya mungkin aku tidak akan begini.
Hari ini Yusti akan menikah, dan iya aku juga cukup kaget
karena ku tahu usianya seumuran denganku, Yusti akan menikah dengan Dani,
laki-laki yang telah menjadi pacarnya sejak putus denganku, Dan sebenarnya aku
tidak di undang ke acara pernikahannya itu, aku datang karena aku diminta oleh
Irna untuk menemaninya. Aku tidak tahu kenapa Yusti tidak mengundangku apa
mungkin memang tidak anjurkan jika kita menikah lalu mengundang mantan pacar,
padahal menurutku tidak apa-apa diundang juga karena kau harusnya percaya kalau
aku tidak akan menghabiskan catering.
“Gimana ganteng gak
?” Lalu tanyaku ke Irna
“Ih amit-amit,
kayak penghulu-penghulu salah gaul tahu”
“Ah gila…”
Padahal kau tahu dengan berkemeja batik modern warna
coklat ini aku sudah merasa cukup keren, setidaknya kau akan mendapat
persetejuan dari Ibuku juga teman-teman kampusku jika ada. Tapi tidak akan
pernah dari Irna.
Kau mungkin paham kalau sahabat adalah orang yang paling
tidak bisa memuji secara terang-terangan, bahkan jika seluruh dunia memujimu
keren sahabat akan menjadi satu-satunya orang yang menyebutmu jelek, atau
sangat jelek mungkin.
Tapi hanya sahabat juga
lah yang membuatmu tak pernah tersinggung oleh ucapan itu.
“Udah yuk ah
berangkat”
Aku dan Irna
mulai pergi ke tempat pernikahan Yusti dan Dani, lokasinya ada di salah satu
gedung di jalan karang sari, hanya butuh 45 menit jarak tempuh dari lokasi kami
di jalan Cipaganti dengan menggunakan motor CBR jadul ku.
Kau tahu walau ini motor jadul tapi aku tetap suka
meskipun kadang dalam beberapa waktu motor ini sering mogok dan Irna suka marah
saat memang sedang giliran dia yang menumpang.
“Geus mejeuhna
diganti ieu mah Tito motor teh” Selalu ucap Irna ketika motorku mogok, dan
itu dalam Bahasa Sunda artinya Udah
mestinya di ganti ini mah Tito motor teh.
“Eh enak aja main
ganti-ganti,sejarah tahu ini tuh,bulu mata palsu mu aja tuh ganti”
Aku memang sering
memojokkannya tentang bulu mata palsu yang ia pakai, kau tahu aku memang heran
dengan kebiasaan perempuan yang sering menggunakan itu.
--0--
Aku dan Irna sudah ada diantara kerumunan tamu-tamu
undangan yang datang disini aku bisa memprediksi mungkin yang diundang ada
lebih dari 500 orang dan mungkin biaya yang dihabiskan untuk ini bisa lebih
dari 20 juta, kalau gitu tabunganku belum cukup jika ingin menyusul Yusti.
“To” sahut Irna
“Lihat deh, cantik ya itu si Yusti”
Dari jauh Yusti memang
terlihat cantik dengan kebaya putih yang ia kenakan itu.
“Kalau dibandingin
kamu, iya jauh banget cantikan dia”
“Ha Ha sialan” “Udah
yuk ah samperin”.
Aku dan Irna berada dalam antrian untuk memberi selamat
pada Yusti dan Dani, langkahku ada di belakang Irna, diantara senyum-senyum
senang itu.
“Hey Irna” Ku
dengar sapaan Yusti itu
Kini sudah masuk
giliran Irna dan Aku yang memberi ucapan selamat untuk Yusti.
“Hey Yusti, ahh…
gak nyangka deh kamu udah nikah lagi”
Kau tahu Irna dan Yusti
memang juga berteman baik, itulah alasannya mereka juga sangat akrab.
“Ha Ha iya, eh kamu datang sama siapa ?”
“Ini” Irna mengarahkan telunjukknya ke belakang, ke
arah wajahku.
“Hey Yusti”
Sapaku penuh canggung
Yusti menyapa balik
dengan senyumnya itu, jika ada yang tidak mungkin bisa berubah dari manusia ku
kira salah satunya adalah senyuman, kau tahu dari dulu sampai sekarang
senyumannya selalu manis.
“Iya ini si Tito
maksa pengen ikut, katanya kecewa kamu gak ngundang dia”
“Eh apa” Sanggahku
“Bentar ini klarifikasi dulu, yang bener
si Irna nih yang maksa aku buat nemenin dia”
“Wleee….”
“Eh iya maaf Tito lupa kamu gak ke
undang” Jawabnya membela diri “Tapi by the way emangnya sekarang kalian pacaran ?”
“Enggaa…” Sanggah
kami berbarengan. Kau tahu kami
menjawab itu dengan cukup kencang membuat beberapa orang diruangan ini
memandangi Aku dan Irna.
“Gak mungkin lah
aku pacaran sama dia” Bilang Irna “Seleraku
tinggi kali”
“Ya emang kamu fikir aku mau sama
kamu ? Ihh.. ya enggak lah” Jawabku melawan.
Kau tahu kami memang
begitu ketika ditanya apa kami pacaran atau kemungkinannya. Aku dan Irna akan
selalu begitu walau sekarang dan beberapa waktu ke depan kami sama-sama single.
“Ehemm…” Terdengar
suara batuk dari orang dibelakangku
“Oh iya maaf”
Ternyata perdebatanku dengan Irna telah membuat antrian
dibelakang sangat panjang dan bertahan tidak bergerak untuk waktu yang lama.
“Tuh kan kamu sih”
Aku menyalahkan Irna
“Kok aku ? kamu
tahu”
“Udah ah ayo malah
debat lagi” Aku menarik lengan Irna untuk membuatnya bergerak pergi.
“Sekali lagi
selamat ya Yusti” Tutupku.
Lalu aku berjalan menuju meja hidangan, untuk melakukan
kebiasaan yang tiap tamu undangan lakukan sehabis memberi ucapan selamat pada
mempelai. Dan makanannya enak-enak, aku jadi ingin ngambil banyak.
“Ini gratis kan ?”
Tanyaku ke Irna
“Gak…, sesendoknya
gocap”
“Ah Gila…”
Lalu sambil mengambil beberapa makanan ke dalam piring,
Irna memberiku pertanyaan yang ia tanyakan dengan cukup santai.
“Eh To kamu percaya
tadi alasan si Yusti gak ngundang kamu karena lupa?”
“Mungkin iya, tapi mungkin juga
enggak”
“Kalau misalnya iya dia lupa, kok
bisa ya ?”
“Iya bisa banget, karena itu salah
satu perbedaan dengan sahabatan”
“Maksudnya ?”
Kau tahu sampai sekarang aku tak pernah punya fikiran
untuk berperasaan lebih pada Irna, maksudku walau aku tahu Irna baik, dia juga
cantik, dan dia punya banyak alasan untuk membuatku merasa senang, tapi bagiku
itu cukup sampai pada titik sahabat saja, karena ku rasa itu sudah sampai pada
titik paling atas.
Jika kau laki-laki dan punya sahabat perempuan lalu kau
sudah merasa nyaman dengan status bersahabat, ku kira kau tak perlu memaksa
untuk mengubah status itu, karena itu adalah kuncinya jika hubunganmu tidak
ingin rusak.
Ku ambil contoh hubunganku dengan Yusti, aku pernah
pacaran dengannya, aku pernah merasa bahagia bersamanya, tapi setelah itu
setelah kami sudah tidak lagi bersama, yang terjadi justru dengan mudahnya ia
lupa padaku. Aku tidak kecewa pada Yusti karena ku fikir itu sudah umum
terjadi.
Maka aku lebih memilih bersahabat dengan Irna, karena ku
tahu itu adalah cara terbaik untuk membuat kami tidak saling lupa. Bahkan jika
nanti salah satu dari kami menikah aku yakin kami tidak akan lupa untuk saling
mengundang.

Komentar
Posting Komentar