Farewell Gonna Be Farewell

“Bimo, aku di terima di Juilliard“
Sepatah kalimat yang Selly ucapkan beberapa minggu lalu.
                       
            Bimo, itulah aku. 18 tahun yang lalu melalui perundingan tertutup, kedua orang tuaku sepakat memberi nama itu bagi anak kedua mereka, kalau nama panjangku diambil dari nama Ayah yaitu Pramesta, seorang Anggota Polisi berpangkat Briptu, yang di usia 22 tahun lalu menikah dengan teman semasa kuliahnya bernama Diana, yang dimana itu adalah Ibuku.
            Aku itu tinggal di daerah Antapani, Bandung di sebuah komplek yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Bu Aini dan Pak Bayu, tetanggaku yang hanya punya satu anak tunggal perempuan bernama Selly, dan dia itu adalah sahabatku, terlepas karena kami yang memang bertetangga juga kedua orang tua kami yang dekat, Selly memang begitu, dia adalah manusia yang terlahir dengan bakat menjadi sahabat yang baik, terkhusus untukku.
            Aku masih ingat waktu itu saat usiaku 7 tahun, Aku Ayah dan Ibu datang ke komplek ini sebagai penduduk baru, dan keluarga Pak Bayu datang untuk memberi kerahaman khas penduduk yang sudah lebih lama tinggal, dan kau tahu aku sebagaimana anak usia 7 tahun umumnya memberi pandang malu-malu saat melihat seorang gadis seumuran denganku, yang kemudian tak lama kemudian aku tahu namanya adalah Selly.
            Selanjutnya aku bisa berteman baik dengan Selly, dan jika harus ada yang menjadi pengingat awal, mungkin aku akan memilih permainan monopoli lah yang menjadi awal persahabatan kami, karena itu menjadi permainan pertama yang kami mainkan waktu itu dan disitu kami bisa menikmatinya, aku bisa melihat ia tertawa atau kadang bisa jadi sedih ketika uang monopinya habis, di permainan itu pula aku bisa tahu kota favoritnya selain Bandung, jika sudah main monopoli Kiki selalu harus bisa memiliki Kota New York dan melarangku untuk membelinya jika aku yang menginjaknya.
            “New York itu kota favorit aku selain Bandung”  Selly menjelaskan padaku.
Aku tidak tahu bagaimana bisa orang yang waktu itu belum terlalu besar atau dewasa bisa mengenal New York dan menyukainya.
            “Jadi itu berarti mengharuskan kamu untuk selalu beli kota New York tiap main monopoli ?”
            “Ya gak apa-apa atuh, siapa suatu saat nanti mah aku bisa ke New York”
Kau tahu saat Selly bicara itu aku hanya menganggapnya sebagai candaan atau angan-angan saja,  maksudku kau tak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya.

            Dan hari ini aku masih tak percaya jika Selly benar-benar akan pergi ke New York, terlepas dari aku yang ikut senang karena ia di terima di Julliard University, ada hal lain yang mungkin harus ku katakan bisa membuatku tak suka ia pergi kesana. Iya itu adalah perpisahan.
            Kau tahu 10 tahun lebih aku bersahabat dengannya, hampir setiap hari bertemu untuk saling bercerita dan melakukan hal lainnya bersama, kini untuk waktu yang lama aku akan kehilangan hal-hal menyenangkan itu.
            Selly sudah akan pergi ke New York, ia akan berangkat dari Bandara nanti malam, itu artinya aku hanya punya satu hari penuh ini saja untuk menghabiskan waktu berdua dengannya, dan kau tahu aku sudah punya rencana, aku akan mengajaknya keliling Bandung dan membuatnya merasa senang seharian ini, aku ingin membuat Farewell ini menjadi Farewell paling hebat.

            Aku sudah ada di depan rumahnya jam 5 pagi, lebih cepat dari Tukang Bubur yang biasa melintasi komplek, aku memang sengaja setelah shalat shubuh tadi langsung bergerak ke rumahnya, kau tahu jika ini adalah hari terakhirku sebelum berpisah dengannya maka aku harus bisa memaksimalkan itu.
            “Pagi banget” Kiki membukakan pintu dengan sambil menggesekan tangannya di mata
            “Ternyata kamu kalau pagi belekannya banyak”
            “Ih apaan sih, Bim”
            “Ha Ha, ayuk ih”
            “Kemana ?”
            “Kita keliling Bandung”
            “Oh sekarang ? bentar kalau gitu aku mandi dulu”
           
Lalu kami memulai petualangan kami, Sarapan Bubur adalah hal yang menjadi pembuka semangat hari ini, kau tahu Bubur adalah salah satu makanan yang memang Selly suka, apalagi kalau Buburnya Mang Ujang, bubur yang aku bilang suka melintas di komplek itu, Buburnya memang enak, Mang Ujang punya banyak pembeli tetap dan ku kira ia hanya tinggal menunggu waktu saja untuk bisa naik haji.
Ah, nanti pasti kangen deh sama Buburnya Mang Ujang” Gumam Selly
“Memang nak Selly mau pergi kemana ?” Tanya Mang Ujang
“New York mang, kuliah disana dia” Jawabku
“Iya” Jelas Selly  “Disana pasti gak ada yang jual Bubur, kalau pun ada nanti pasti gak bakalan seenak buburnya Mang Ujang”
Selly adalah pengagum Buburnya Mang Ujang, dan dia tahu betul rasanya, Waktu itu pernah saat ia sakit aku coba membuatkannya bubur, tapi ia hanya memakannya satu suap, akhirnya bubur itu justru aku yang menghabiskan, dan kau tahu besoknya aku sakit perut. Memang hanya mang Ujang yang bisa membuat bubur seenak itu, makanya aku setuju saat si Selly pernah bilang. “Kau tahu harusnya si Mang Ujang lah yang main sinetron itu”.

Lalu jam 7 pagi aku dan Selly sudah ada di Terminal Cicaheum, aku memang berencana mengajaknya keliling Bandung itu dengan menggunakan Bus, sebelumnya kau harus tahu Selly pernah cerita padaku bahwa selama ini ia baru dua kali naik bus yaitu dua-duanya ia lakukan ketika masih SD, maka sebelum ia pergi ke New York ia harus kembali merasakan sensasi naik Bus khas Indonesia.
            “Ini serius ?” Tanya Selly
            “Iya,udah ayo cepat naik ah”
Aku duduk bersamanya di kursi paling belakang, Bus kali ini cukup kosong padahal aku inginnya penuh agar makin terasa sensasi naik busnya juga agar si kondektur bisa mendapat banyak uang, tapi ya sudah tidak apa-apa agak kosong juga ku kira ini kondisi yang cocok untuk aku mendengarkan musik lewat earphone dan aku dengarkan berdua dengan Selly.
            “Dengerin deh” Aku memberi satu kabel earphone lainnya.
            “Lagu apa ini ?”
            “Lagunya Simon Adams, Far Away”
Bus melaju dengan kecepatan normal, hembusan angin sedikit masuk lewat jendela, dan lagu Far Away berdengung merdu di telinga kami berdua, untuk kali ini aku ingin satu menit itu lebih dari 60 detik. Kau mengerti mengapa.
Hari ini aku mengunjungi banyak tempat bersama Selly,  walau tak semua tempat seru di Bandung kami kunjungi tapi aku tahu hari ini kami benar-benar menikmatinya, berkuda bersama di De’Ranch Lembang, berfoto ala hobits di Farm House, berlarian tak jelas di Alun-Alun Bandung, hingga sampai di sore hari ini aku sudah duduk bersamanya di Café D’Pakar, jika kau adalah orang Bandung atau wisatawan yang sering ke Bandung pastinya kau tahu kalau café D’pakar adalah salah satu café terbaik di Bandung, dan aku beruntung hari ini bisa langsung datang tanpa harus ada di waiting list.
Aku dan Selly ada di area outdoor café membiarkan mata kami menikmati indahnya nuansa alam dari pemandangan yang mengarah ke Tahura Dago, kentang sosis dan Susu Murni semakin menambah indah sore ini, walau tak berapa lama kemudian indahnya sore itu berubah.
“Bandung tuh indah ya” Gumam Selly dengan memandang ke arah alam-alam hijau
Iya, menurutku mah lebih indah dari New York”
Lalu Selly memandangku, nampaknya ia mengeri mengapa aku berbicara seperti itu.
            “Kalau jarak dari sini ke Bandara itu dua jam berarti harusnya setengah jam lagi aku berangkat”
            “Aku harap sih setangah jam kali ini bisa lebih lama dari biasanya”
            Kau tahu aku masih sulit dengan perpisahan ini.

            Waktu selalu tidak pernah ada di pihakmu, sebagaimana pun engkau meminta waktu hanya akan berlalu seperti biasanya, satu menit tetap berlalu 60 detik, dan setengah jam tetap terasa sebentar atau sangat sebentar malah, sekarang aku sudah harus mengantar Selly ke Bandara, ke tempat yang akan membuatnya pergi meninggalkanku untuk waktu yang lama.
            Aku mengantarnya ke Bandara dengan menggunakan taksi, di taksi itu selama perjalanan kami hampir sama sekali tidak saling bicara, aku tidak tahu mengapa, tapi ku fikir Selly sedang sama sepertiku membayangkan kehidupan mulai besok, tanpa sahabat sejati.

            “Kira-kira kamu berapa lama disana ?”  Tanyaku ke Selly
            Aku dan Selly sudah ada di Bandara, dan di sebelah tangannya koper besar sudah tersedia. Bu Aini dan Pak Bayu juga sudah ada disini, selain karena merekalah yang membawakan koper Selly, ku tahu mereka juga sama sepertiku ingin memberi salam perpisahan juga mendoakan agar Selly baik-baik saja.
            “Aku gak tahu berapa lama, tapi mungkin lebih dari tiga tahun” Jawab Selly
            “Kamu gak akan rindu aku ?” Tanyaku
Lalu Selly hanya senyum.
            Kau tahu biasanya jika aku bicara begitu pasti Selly akan menjawab “Hah aku rindu kamu ? ih kebalik kali, kamu yang rindu aku”. Kau mengerti bagi sahabat kalimat itu memiliki arti yang lebih dalam dari “Iya, aku rindu kamu”.
            Tapi mungkin sekarang dengan hanya menjawab senyum saja, Selly sedang membayangkan bahwa ke depannya ia akan merasakan rindu yang paling lebih dalam, Aku mengerti, karena ku tahu aku juga akan merasakan itu.
            “Kamu hati-hati disana ya nak’, jaga diri baik-baik, kuliah yang benar” Nasihat Ibunya
            Lalu dengan kasih sayang kedua orangtuanya memeluk Selly, pelukannya begitu erat, dan bisa aku lihat air mata jatuh diantara itu.
            Aku ada di depan pelukan mereka bertiga, berdiri tegap untuk membuat halangan bagi air mata, kau tahu walau aku sangat sedih aku masih perlu untuk membuat diri tidak menangis, karena katanya itu adalah salah satu perbedaan laki-laki dan wanita, atau juga karena arti lain, seperti sedih yang paling dalam adalah sedih yang tak mengeluarkan air mata.
            “Bim” Panggil Selly.  Ia membuka kedua tangannya seperti meminta untuk aku peluk.
            Ahh… aku benci harus memeluknya sekarang, karena itu artinya Selly harus sudah pergi.
            “Aku pamit ya”
            “Sel” Panggilku “Aku gak bawa apa untuk membuat kamu istilahnya bisa terus ingat aku, karena ku fikir itu gak perlu, karena lupa gak akan pernah terjadi kalau kita tidak ingin melakukannya”
Ia senyum.
Lalu beberapa detik kemudian ia balik badan untuk langsung masuk ke dalam, lambaian tangannya menjadi penanda terakhir dari sebuah perpisahan.

            Kau tahu salah satu hal paling sedih dalam kehidupan adalah perpisahan, bahkan walau bukan untuk perpisahan yang kekal pasti rasa sedih tetap akan mengincarmu. Kadang kau juga akan berfikir sesenang apapun saat hari terakhir bersamanya, itu tidak akan cukup membuatmu lebih baik.
            Farewell tetaplah farewell, sehebat apapun itu pada akhirnya kau tetap akan sedih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Detik

Solo Travelling

Atas Nama