Meja Makan
MEJA MAKAN
Seadilnya
semua telah diberi jatah 24 jam sehari dan tak ada pengecualian, termasuk jika setiap harimu habis dengan rutinitas dan
kau hanya punya kata minimal untuk sebuah pertemuan.
--0--
Sebagai seorang laki-laki dewasa aku telah dikenalkan secara cuma-cuma
dengan yang namanya tanggung jawab, sejak
lulus kuliah dua tahun lalu tanpa jeda waktu aku langsung berutinas
sebagaimana mestinya seorang laki-laki dewasa. Berbekal lulusan sarjana dari
Fakultas Desain Komunikasi Visual aku diterima di salah satu kantor bidang
desain di Bandung, aku kembali ke kota kelahiranku setelah selama kurang lebih
4 tahun tinggal di kota metropolitan untuk menjalani masa-masa sebagai
Mahasiswa di Institut Kesenian Jakarta. Maksudku kembali memilih Bandung
sebagai tempatku bekerja memang karena ingin kembali dekat dengan keluarga dan
punya banyak waktu bersama walau kemudian itu hanya menjadi ekspektasi belaka.
“Mau
langsung ke café sekarang, Bunda ?” Aku memanggil perempuan dewasa itu dengan sebutan
begitu untuk menghargai jasanya melahirkanku.
“Iya, Bunda
memang harus kesana setiap hari bukan ?”
Bunda memang memiliki sebuah café yang ada di Jalan
Setiabudhi, Bandung. Itu masih baru berdiri sejak 4 bulan lalu tapi sudah mampu membuat Bunda
sangat sibuk disamping pekerjaan utamanya sebagai dosen di Unpad.
“Dan lalu
itu membuat Bunda selalu tak sempat membuat sarapan ?” Lanjutku dengan sedikit
keluh.
“Ah maafkan
Bunda tak sempat, Genta”
Biarlah, Aku sudah cukup bisa memahami
ketidak sempatan Bunda, nyatanya itu sudah menjadi sesuatu yang biasa karena
kesibukan telah menjadi teman sejati di masing-masing keluarga kami. Maksudku
termasuk juga Ayah yang sangat sibuk bekerja juga adikku, Bunga yang sibuk
dengan kuliahnya, maka kau tahu sebuah rumah yang berpenghuni 4 orang ini akan
selalu menjadi rumah kosong di setiap siang hingga menuju malamnya.
Bahkan
ketika masih pagi, penghuni rumah tak pernah bisa bangun secara bersamaan,
selalu saja diantara Aku, Ibu, dan Ayah ada yang sudah lebih dulu pergi bekerja
tanpa sempat sarapan bersama, namun kadang jika beruntung aku akan menemukan
waktu seperti hari ini dimana Bunda masih ada di rumah.
“Kalau Ayah
sudah pergi, Bun ?” Tanyaku
“Ayahmu ini
bahkan sama tukang bubur saja duluan dia perginya”
Ayahku
memang cocok jika ingin aku jadikan idola terutama jika melihat kerja keras dan
tanggung jawabnya.
“Ya sudah,
Genta. Bunda pergi duluan ya, mau ke Café dulu habis itu langsung ke kampus”
“Oh iya,
hati-hati Bunda”
Begitulah hampir
setiap pagi yang keluarga kami lalui, Jika kau bertanya kenapa Aku tak menyebut
Bunga di pagi itu, karena memang dia tidak tinggal di rumah, untuk memudahkan
dengan urusan kuliahnya ia memilih untuk ngekost dekat kampusnya dan baru bisa
pulang saat weekend atau saat ia tidak sibuk.
Jika melihat
dari satu sisi tentu aku sangat tidak menyukai rutinitas ini, maksudku yang
berhubungan dengan waktu. Kau pasti mengerti keluarga adalah dunia terpentingmu
tapi kau juga dituntut untuk bisa memahami kalau duniamu juga punya dunia yang
harus tetap dijalani. Tentang masalah itu aku memang tidak boleh memberi
pandangan hanya dalam satu sisi, itu tidak adil. Untuk sekarang sebaiknya aku
pergi saja karena waktu sudah hampir jam 8, aku takut terlambat masuk kantor, biar
hanya satu roti tawar ini saja yang menjadi teman sempurna pagiku.
--0--
“Genta itu tolong design yang atas nama Pak Bayu, harus selesai siang ini
ya”
Perintah Mbak Clara untukku.
Mbak Clara
adalah atasanku di kantor, dia cantik dan pintar tapi seperti begitu, dia kadang suka menyebalkan, seperti
tadilah, kau tahu aku baru menapakkan tiga langkah saja di ruang kerja ini,
tapi dia sudah langsung memintaku mengerjakan sesuatu, baiklah aku mengerti ini
pekerjaan tapi maksudku izinkanlah aku untuk duduk lebih dulu dan memberi
tenggorokan ini segelas air putih.
“Iya, Siap
Mbak” Jawabku.
“Pagiii…,
Genta” Baru saja aku duduk, seseorang di sebelah mejaku langsung bicara.
Itu si
Richard, teman kerjaku, dia satu divisi denganku dan sayangnya itu juga yang
membuat meja kerjaku dengannya bersebelahan, seharusnya itu tidak menjadi
masalah tapi kau harus tahu sejenak seperti apa Richard itu, dia itu orang
dewasa dengan sudah dikodratkan menjadi laki-laki tapi entah hal apa yang
datang padanya hingga membuat dia sedikit menyeleweng, maksudku begini Richard
itu sangat berisik dan bawel, dia sangat kepo pada semua hal, dan untuk yang
terakhir sedikit ilfeel, Jika kau kesulitan untuk menyebut namanya, maka dia
akan bilang begini padamu “Panggil aja
Icad”, dan telingamu akan merasa geli setelah mendengarnya.
Boleh aku
bilang dia itu memang penggangu, suaranya hampir selalu terdengar di setiap
waktu ditambah dengan tingkahnya yang agak sedikit ke perempuanan membuatku
merasa risih dan dia memang berbakat untuk membuatku semakin stress di kantor.
“Iya Pagi,
ada apa Richard ?” Jawabku sambil menyalakan Komputer untuk langsung memulai
pekerjaan.
“Nanti malam
mau ikut makan gak sama anak-anak ?”
“Kapan ? Malam
ini ?”
“Iya, ikut
ikut ya”
“Bentar, ini
hari apa ?”
“Jum’at”
“Oh aku gak
bisa kalau gitu”
“Ih kenapa ?
perasaan kamu gak bisa mulu deh”
“Ya gak bisa
aja ada urusan”
“Ih ayolah,
Priscil juga ikut loh”
Priscil adalah teman kerjaku juga, banyak orang di kantor
menilai kalau dia adalah karyawan tercantik dan aku setuju.
“Iya tetep
aja aku gak bisa ikut, Richard”
“Ih kamu mah
sebentar kok, atau biar Icad teraktir deh kamu mah gak usah bayar tinggal
datang aja, disana tuh makanannya enak-enak tahu, nih yah ada Steak, Burger,
Cake…”
“Richard…..”
Terdengar di ruang depan, sebuah teriakan
memekakkan telinga
“Iya Mbak”
“Kerja
jangan ngebawel mulu”
“Siap Mbak”
Lalu Richard kembali ke mejanya dan aku mencoba menahan tawa.
“Ya, Nanti
malam ikut ya Genta” .Richard masih sempatnya bicara begitu.
“Hehh,….
Kerja” Aku meniru ucapan Mbak Clara dengan suara pelan yang ku kondisikan.
--0--
Hari ini aku
bisa pulang ketika waktu berada di pukul lima, biasanya bisa lebih malam tapi
untung saja hari ini aku bisa menyelesaikan semua pekerjaanku dengan cepat,
mungkin karena faktor ini adalah hari Jum’at, kau tahu hari Jum’at adalah hari
terbaik untuk jadi yang paling aku tunggu diantara 7 hari dalam 1 minggu, setidaknya
kau tahu malamnya akan selalu menjadi malam paling menyenangkan. Aku kasih tahu
saja di keluargaku ada satu keharusan dimana setiap Jumat malam semuanya harus
kumpul di rumah untuk makan malam bersama di sebuah meja makan dan itu wajib.
Biasanya Bunda yang memasak dan ia sengaja akan pulang lebih cepat dari kami
hanya untuk mempersiapkan semuanya, aku senang karena dari segala piruk
kesibukan, kami masih punya cara untuk tetap bisa berkumpul.
Dan di jam 5
ini, selepas aku pulang dari kantor aku akan pergi dulu ke Jatinangor untuk
menjemput Bunga, oh iya adikku itu kuliah di Unpad, dia memilih untuk menjadi
Mahasiswi di jurusan kedokteran sesuai dengan apa yang inginkannya sejak SD.
Jika berbicara adikku aku tidak akan bisa menjelaskan banyak tentangnya karena
kau tahu aku memang jarang sekali bertemu dengannya, aku tidak tahu seperti apa
ia hari-harinya, aku juga tidak tahu kapan terakhir kali aku mendengar
curhatannya, aku memang tidak memiliki banyak waktu bersamanya tapi tenang aku
masih tahu kalau dia itu tidak suka pedas, setidaknya dengan itu aku masih bisa
bilang kalau aku bukan kakak yang buruk untuknya.
“Hey, Nge” Kebetulan dia ada di gerbang kampus ketika aku
sampai.
“Eh Kak,
dari kantor ?”
“Iya, yuk
sekarang, keburu kemalaman”
Bunga sudah mengerti tentang malam
ini, tentang mengapa aku menjemputnya dan mengapa harus langsung pulang.
“Ayah sudah di rumah memang ?”
“Gak tahu, gak ke rumah dulu tadi
kakak”
“Ya sudah ayo kalau gitu”
Jarak dari jatinangor ke rumahku itu
cukup jauh dan sekarang sudah jam 7 malam, rasanya aku tidak boleh terlaru
larut untuk sampai di rumah karena disana Bunda sudah menunggu dan takalah penting ada Ayam Goreng Bumbu Kecap buatannya.
“Kakak ngebut ya, Nge”
--0--
Aku sampai di rumah pada pukul setengah
sembilan malam, di rumah Bunda sudah siap dengan berbagai masakan sajiannya
yang ia taruh di meja makan, aromanya selalu saja bisa membuat indera
penciumanku harmonis, dan bagiku Bunda jauh lebih baik dibanding Chef Aiko,
jika kau tidak setuju datanglah kerumahku dan cicipilah masakannya.
`”Ehhhh…ya” Bunda menjewer kupingku
“Main comot saja, tunggulah Ayahmu belum pulang kan”
“Yah Bunda, orang cuma nyicip aja “
“Sudah mendingan mandi dulu kamu
sana, nanti masakan Bunda yang enak ini tercemar aroma keringatmu lagi”
“Ih kok … ?”
“Sudah sana, kamu juga Bunga mandi
dulu saja, sambil nunggu Ayah pulang”
“Iya Bunda”
--0--
Romansa
musik 80an bersenandung menghiasi ruang makan, aku tahu yang sedang di putar
ini adalah lagu dari Air Supply yang berjudul Without You, lagu favoritnya Ayah yang katanya pernah Ayah
nyanyikan untuk Bunda.
“Weisss
lagunya” Aku membantu Bunda untuk
merapihkan meja makan
“Tahu tuh
itu si Ayah datang-datang langsung putar lagu ini”
Kau tahu di ruang makan memang ada satu tape yang sengaja
disimpan, itu berguna untuk memutar lagu ketika kami akan makan, kata Ayah
untuk menyantap masakan lezatnya Bunda perlu diiringi dengan lagu-lagu yang
merdu agar kami bisa merasa sedang ada di restoran bintang lima.
“Ah jangan
jaim deh Bun, Bunda memang paling seneng kan kalau dengar lagu ini”
“Ih apaan
sih Ayah” Jawab Bunda dengan senyum malunya.
“Haha, sudah
yuk makan ah, eh Bunga mana?”
“Tadi mandi
dulu dia , Yah”
“Eh tuh dia,
sini Nak kita makan sekarang”
Selalu Jumat
malam mampu memberi kesan terbaik tentang apa yang tak ada dalam malam lainnya
, biarlah walau tak sampai dua jam dan
hanya terjadi seminggu sekali, kebiasaan ini harus terus ada. Aku tak apa harus
menanggung stress dengan piruk pekerjaan di kantor, aku tak apa menjadikan
rumah terkadang hanya sebagai tempat singgah, itu semua bisa aku tanggung
sebagai caraku berjuang untuk sampai pada malam ini.
“Ayamnya
tinggal dua nih, siapa yang mau lagi?” Bilang Bunda di tengah suasana makan
“Ayah Dong”
“Ih aku juga
mau atuh Bunda”
“Ya udah nih
buat Ayah satu, buat Bunga satu”
“Ih kok.. ?”
Timpalku “Aku mana ?”
“Ya udah sih
Kak, itu sambalnya masih banyak kok, Haha”
“Dasar kau”
“Eh, Nge”
Panggilku “Itu kayak ada yang ngetuk pintu, cek gih, ”
“Ih, ganggu
aja” Sedikit ketus tapi dia tetap pergi untuk mengecek pintu, dan kau tahu, aku
berhasil menipunya.
Iya itulah
aku, nyatanya tak ada yang mengetuk pintu, itu hanyalah caraku untuk
mengalihkan Bunga dari piringnya sehingga aku punya kesempatan untuk mencuri
daging Ayam dari piringnya.
“Eh iseng ya
kau, Genta” Respon Ayah
“Gak apa-apa
lah Yah, enak tahu ini ayamnya”
--0--
“Mana Gak
ada, ? Bunga kembali ke Meja Makan “ Ih… Kakak…”
“Apa ?”
“Itu Ayam
aku kok diambil sih”
“Udah deh
jangan pelit-pelit jadi adek”
“Ih, Kakak
yang gak mau ngalah jadi kakak teh"Timpalnya
“Biarin,
Wlee..”
Diatas
pusara waktu aku menikmati betul sebuah atmosfer ruangan yang sangat harmonis,
diataranya hidangan di meja makan dan lagu yang terus berdengung membuat
sempurna malam ini, aku kalau bisa selalu ingin setiap jumat malam itu
mengganti aturan waktu supaya satu menit itu jangan 60 detik tapi ku ganti saja
menjadi 9800 detik, aku terus menginkan begitu walau nyatanya itu mustahil.
Jadi biar saja aku lebih memahami tentang arti sebuah istilah
bahwa yang paling penting adalah kualitas bukan kuantitas.
“Hu Ha Hahhh
Hah…” Gerikku kepedasan
“Kenapa
kamu,Genta ?” Tanya Bunda
“Bunda, kok
yang ini mah ayamnya pedes banget sih ?”
“Oh iya lupa
Bunda, itu Bunda memang sengaja yang satu potongnya dibuat pedes banget”
“Kenapa, Bun
?”
“Iya sengaja
tadinya itu buat Ayah”
“Ha Ha Ha
Ha…., kasian deh Kak Genta” Tertawa Bunga
“Ketawa
kamu, minum mana sini ih”
Ayah
memberiku minum dan di tengah tegukanku ia bicara “Beruntung kamu Bunga, untung
Ayammu tadi diambil sama kakakmu”
“Iya, ya
Yah, Bunga kan kalau kepedesan bisa sakit banget perutnya” Jawab Bunda.
Bunga memang
sedikit punya masalah dengan pencernaannya, ia akan sangat merasa kesakitan
jika sesuatu yang terasa pedas berkuasa di perutnya, terakhir Bunga harus
dirawat 2 hari di rumah sakit karena makan seblak, dan itu sebabnya Bunga tidak
suka dan tidak boleh makan pedas.
“Iya ih, Kak
Genta emang kakak yang terbaik deh” Sahut Bunga.
Aku ingin
senang karena merasa telah jadi penyelamat Bunga, tapi ini terlalu pedas dan
kau tahu aku ingin minum saja sekarang.
--0--
Dan begini, makan malam sudah
selesai dan mungkin aku harus rehat untuk rutinitas di sepanjang besok, besok
memang weekend tapi aku harus tetap masuk kantor karena banyak pekerjaan, biar,
aku tidak mengeluh pada itu aku mencintainya malah.
Sekarang begini
saja coba kau pahami sekali lagi, kau tahu sebenarnya manusia sudah ditakdirkan
untuk tidak sering bertemu satu sama lain, tengoklah dulu pada kisah Nabi Adam
dan Siti Hawa, mereka sebagai dua manusia pertama yang hidup di bumi pun harus
sangat lama dipisahkan sebelum akhirnya kembali bertemu di padang Arafah.
Dan tak
pernah berbeda dengan jaman sekarang dimana banyak manusia yang sangat sulit
untuk bisa sering bertemu dengan orang-orang terdekatnya, dan sayangnya banyak
yang mengeluh pada itu, padahal kan harusnya tidak.
Pada sebuah alinea
kesibukanmu yang panjang, berilah satu tanda koma yang bisa membuatmu rehat
sejenak, dan ditanda itu jadikanlah beberapa menitmu berharga dengan
menikmatinya hanya bersama keluarga, percayalah dengan itu kau akan terus
menikmati kesibukanmu dan kau bersama keluargamu tak akan pernah senyap.
Keluarga akan
selamanya tetap jadi keluarga
yang akan saling sayang walau tak
banyak menatap,
akan saling
melindungi walau tak sering didampingi,
dan lewat nyanyian mereka akan memberi tahumu
bahwa mereka masih jadi harta yang paling berharga

Komentar
Posting Komentar